Blogger news

Blogroll

☒ WELCOME TO MY BLOG ☺ KEPERAWATAN KESEHATAN DAN HIBURAN ☒

Kamis, 15 Desember 2011

ASKEP GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI ASKEP ANEMIA DEFISIENSI BESI



MAKALAH
GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI
ASKEP ANEMIA DEFISIENSI BESI



 













                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          
Disusun Oleh:
1.      Reza Syahbandi   J                : 144 STYC 10

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI S.1
2010/2011


K ATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah Sistem Hemetologi & Imunologi yang berjudul ” Askep Anemia Defisiensi Besi ” tepat pada waktunya.
   Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengrjaan makalah ini.
   Penulis juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun agar penulis dapat berbuat lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.




                                                                                    Jambi,14 Desember 2009



                                                                                                Penulis





DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ..................................................................................
LAMPIRAN ................................................................................................      i
KATA PENGANTAR ...............................................................................     ii
DAFTAR ISI ...............................................................................................    iii
BAB I PENDAHULUAN                                                                           
1.1    Latar Belakang ...............................................................................     1
1.2    Rumusan Masalah ..........................................................................     2
1.3    Tujuan ............................................................................................     2
BAB II KONSEP DASAR TEORI
2.1        Pengertian Anemia Defisiensi Besi ................................................     3
2.2        Etiologi...........................................................................................     4
2.3        Patofisiologi....................................................................................     4
2.4        Manifestasi klinis............................................................................     7
2.5        Penatalaksanaan..............................................................................     7
2.6        Komplikasi .....................................................................................     9
2.7        Asuhan Keperawatan......................................................................     9
BAB III PEMBAHASAN KASUS ...........................................................   21
BAB IV PENUTUP
4.1        Kesimpulan  ...................................................................................   27
4.2        Saran ..............................................................................................    27
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Anemia adalah suatu istilah yang menunjukkan rendahnya sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
(Brunner & Suddarth, 2001)
Zat besi merupakan salah satu mikronutrien terpenting kehidupan anak. Kekurangan atau defisiensi besi yang berat akan menyebabkan anemia atau kurang darah. Di dunia, defisiensi besi terjadi pada 20-25% bayi. Di Indonesia, ditemukan anemia pada 40,5% balita, 47,2% usia sekolah, 57,1% remaja putri, dan 50,9% ibu hamil. Penelitian pada 1000 anak sekolah yang dilakukan oleh IDAI di 11 propinsi menunjukkan anemia sebanyak 20-25%. Jumlah anak yang mengalami defisiensi besi tanpa anemia tentunya jauh lebih banyak lagi.
Berbagai macam pembagian anemia dalam kehamilan telah dikemukakan oleh para penulis. Berdasarkan penyelidikan data dari Dep.Kes anemia dalam kehamilan dapat dibagi menjadi:
1.      Anemia defisiensi besi
2.      Anemia megaloblastik
3.      Anemia hipopalstik
4.      Anemia hemolitik
Anemia yang langsung berhubungan dengan kehamilan adalah anemia defisiensi besi, yang merupakan 95% dari anemia pada wanita hamil.
Dalam makalh ini penulis membahas konsep teori anemia defisiensi besi serta asuhan keperawatannya.
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dat membuat rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
         1.   Apa Pengertian dari Defisiensi Besi ?
         2.   Apa Etiologi dari Defisiensi Besi ?
         3.   Bagaimanakah patofisiologis pada Defisiensi Besi ?
         4.   Apa saja manifestasi dari Defisiensi Besi ?
         5.   Bagaimankah penatalaksanaan nya ?
         6.   Apa saja komplikasi nya ?
         7.   Bagaimnakah Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Defisiensi Besi ?
1.3    Tujuan
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas Sistem Hematologi & Imunologi yang berjudul ” Askep Anemia Defisiensi Besi ”. Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah menjawab pertanyaan yang telah dijabarkan pada rumusan masalah agar penulis ataupun pembaca tentang konsep skoliosis serta proses keperawatan dan pengkajiannya.



BAB II
KONSEP DASAR TEORI
2.1        Pengertian
Anemia akibat defesiensi besi untuk sisntesis Hb merupakan penyakit darah yang paling sering pada bayi dan anak. Frekuensinya berkaitan dengan aspek dasar metabolisme besi dan nutrisi tertentu. Tubuh bayi baru lahir mengandung kira-kira 0,5 g besi, sedangkan dewasa kira-kira 5 g. untuk mengejar perbedaan itu rata-rata 0,8 mg besi harus direabsorbsi tiap hari selama 15 tahun pertam kehidupan. Disamping kebutuhan pertumbuhan ini, sejumlah kecil diperlukan untuk menyeimbangkan kehilangan besi normal oleh pengelupasan sel, karena itu untuk mempertahankan keseimbangan besi positif pada anak, kira-kira 1 mg besi harus direabsorbsi setiap hari.
Prevalens anemia defisiensi besi (ADB) pada anak masih tinggi.Pada anak sekolah dasar berumur 7-13 tahun di Jakarta (1999) dari seluruh jenis anemia yang diderita,50% di antaranaya menderita ADB.
ADB memberikan dampak negatif kepada tumbuh-kembang anak.Hal ini disebabkan karena defisiensi besi selain dapat mengakibatkan komplikasi yang ringan antara lain kelainan kuku (kolonikia),atrofi papil lidah,glositis dan stomatitis yang dapat sembuh dengan pemberian besi,dapat pula memberikan komplikasi yang berat misalnya penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi,gangguan prestasi belajar,atau gangguan mental yang lainnya yang dapat berlangsung lama bahkan menetap.Oleh karena itu pengobatan terhadap defisiensi besi harus dimulai sedini mungkin.Demikian juga tindakan pencegahannya
Anemia Defisiensi besi adalah kadar besi dalam tubuh dibawah nilai normal. Pada tahap awal kita akan menemukan cadangan besi tubuh yang berkurang. Kemudian jika kekurangan berlanjut kadar besi dalam plasma akan berkurang. Pada akhirnya proses pembentukan hemoglobin akan terganggu dan menyebabkan anemia defisiensi besi.
Anemia yang disebabkan kekurangan besi untuk sintesa Hemoglobin.
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pamatangan eritrosit.
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya mineral Fe sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit
2.2        Etiologi
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan zat besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun :
1.      Kehilangan besi akibat perdarahan menahun yang dapat beasal dari :
-        Saluran cerna à Akibat dari tukak peptik kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang
-        Saluran genetalia wanita à menoragi atau metroragi
-        Saluran kemih à hematuria
-        Saluran nafas à hemoptoe
2.      Faktor nutrisi à akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan atau kualitas besi yang tidak baik (makanan banyak mengandung serat, rendah vitamin C, dan rendah daging)
3.      Kebutuhan besi meningkat à seperti pada prematuritas anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan
4.      Gangguan absorpsi besi à gastrekotomi, kolitis kronis

2.3        Patofisiologi
Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi semakin menurun. Apabila cadangan kosong, maka keadaan ini disebut iron depleted state. Apabila kekurangan besi berlanjut terus, maka penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang. Sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit, tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini disebut iron deficien erythropoesis. Selanjutnya timbul anemia hipokromik mikrositer, sehingga disebut iron deficiency anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku epitel mulut dan faring, serta berbagai gejala lainnya
Zat besi (Fe) diperlukan untuk pembuatan heme dan hemoglobin (Hb). Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb. Walaupun pembuatan eritrosit juga menurun, tiap eritrosit mengandung Hb lebih sedikit dari pada biasa sehingga timbul anemia hipokromik mikrositik.
1.      Jumlah efektif eritrosit berkurang menyebabkan jumlah O2 ke jaringan berkurang
2.      Kehilangan darah yang mendadak (> 30%) mengakibatkan pendarahan menimbulkan simtomatologi sekunder hipovolemi dan hipoksia
3.      Tanda dan gejala: gelisah, diaforesis (keringat dingin), takikardi, dyspne, syok
4.      Kehilangan darah dalam beberapa waktu (bulan) sampai dengan 50% terdapat kompensasi adalah:
ü  Peningkatan curah jantung dan pernafasan
ü  Meningkatkan pelepasan O2 oleh hemoglobin
ü  Mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan, redistribusi aliran darah ke organ vital.
Salah satu tanda yang sering di kaitkan dengan anemia adalah pucat, ini umumnya sering di kaitkan dengan volume darah, berkurangnya hemoglobin dan vasokontriksi untuk memperbesar pengiriman O2 ke organ-organ vital. Karena faktor-faktor seperti pigmentasi kulit, suhu dan kedalaman serta distribusi kapiler mempengaruhi warna kulit maka warna kulit bukan merupakan indeks pucat yang dapat diandalkan. Warna kuku, telapak tangan dan membran mukosa mulut serta konjungtiva dapat digunakan lebih baik guna menilai kepucatan.




2.4        Manifestasi Klinis
1.      Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokontriksi
2.      Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina (sakit dada)
3.      Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang)
4.      Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada SS
5.      Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)
Pucat merupakan tanda paling penting pada defisiensi besi. Pada ADB dengan kadar Hb 6-10 g/dl terjadi mekanisme kompensasi yang efektif sehingga gejala anemia hanya ringan saja. Bila kadar Hb turun <> 100 µg/dl eritrosit
Gejala khas yang dijumpai pada defisiensi besi dan tidak dijumpai pada anemia jenis lain adalah sebagai berikut :
a.       Koilorikia à Kuku sendok (Spoon nail) kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertical, dan menjadi cekung seperti sendok.
b.      Atrofi papilla lidah à Permukaan lidah menjadi licin dan mengilap karena papil lidah menghilang.
c.       Stomatitis angularis à adanya peradangan pada sudut mulut, sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
d.      Disfagia à nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.
e.       Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan aklorida.
2.5        Penatalaksanaan
1.   Medikamentosa
      Pemberian preparat besi (ferosulfat/ferofumarat/feroglukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan di antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin normal. Asam askorbat 100 mg/15 mg besi elemental (untuk meningkatkan absorbsi besi).
Ø  Pemberian preparat besi peroral
Preparat yang tersedia berupa ferrous glukonat, fumarat dan suksinat. Yang sering dipakai adalah ferrous sulfat karena harganya lebih murah. Untuk bayi tersedia preparat besi berupa tetes (drop). Untuk mendapatkan respon pengobatan dosis besi yang dipakai adalah 4-6 mg besi elemental/kgBB/hari. Obat diberikan dalam 2-3 dosis sehari. Preparat besi ini harus diberikan selama 2 bulan setelah anemia pada penderita teratasi.1,2
Ø  Pemberian preparat besi parenteral
Pemberian besi secara intramuskuler menimbulkan rasa sakit dan harganya mahal. Dapat menyebabkan limfadenopati regional dan reaksi alergi. Kemampuan untuk menaikkan kadar Hb tidak lebih baik dibanding peroral. Preparat yang sering dipakai adalah dekstran besi. Larutan ini mengandung 50 mg besi. Dosis dihitung berdasarkan :
Dosis besi (mg) = BB (kg) x kadar Hb yang diinginkan (g/dl) x 2,5.
Ø  Transfusi darah
Transfusi darah jarang diperlukan. Transfusi darah hanya diberikan pada keadaan anemia yang sangat berat atau yang disertai infeksi yang dapat mempengaruhi respon terapi. Pemberian PRC dilakukan secara perlahan dalam jumlah yang cukup untuk menaikkan kadar Hb sampai tingkat aman sambil menunggu respon terapi besi. Secara umum, untuk penderita anemia berat dengan kadar Hb < style="font-weight: bold;">II.
2.   Bedah
      Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan karena diverticulum Meckel.
3.   Suportif
      Makanan gizi seimbang terutama yang mengandung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani (limfa,hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan)

Prinsip penatalaksanaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab dan mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Sekitar 80-85% penyebab ADB dapat diketahui sehingga penaganannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat secara peroral atau parenteral. Pemberian peroral lebih aman, murah dan sama efektifnya dengan pemberian secara parenteral. Pemberian secara parenteral dilakukan pada penderita yang tidak dapat memakan obat oleh karena terdapat gangguan pencernaan.
4.      Pencegahan
Tindakan penting yang dapat dilakukan untuk mencegah kekurangan besi pada masa awal kehidupan adalah meningkatkan penggunaan ASI eksklusif, menunda penggunaan susu sapi sampai usia 1 tahun, memberikan makanan bayi yang mengandung besi serta makanan yang kaya dengan asam askorbat (jus buah) pada saat memperkenalkan makanan pada usia 4-6 bulan, memberikan suplementasi Fe kepada bayi yang kurang bulan, serta pemakaian PASI (susu formula) yang mengandung besi.
2.6        Komplikasi
1.Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )
2.Daya konsentrasi menurun
3.Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun.
2.7        Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Anemia Defisiensi Besi
A.    Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantung pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
1)      Anamnesa
a.       Identitas Pasien.
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b.   Keluhan Utama : Biasanya pasien mengeluh lemas, lesu, dan pusing.
c.   Riwayat Kesehatan.
Ø  Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
Ø  Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pasien dulu pernah mengalami perdarahan hebat. Dan apakah pasien dulu pernah kekurangan makanan yang mengandung asam folfat, Fe.
Ø  Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit anemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya anemia, sering terjadi pada beberapa keturunan, dan anemia defisiensi besi yang cenderung diturunkan secara genetik.
2.      Dasar data pengkajian pasien
a.   Aktivitas/Istirahat
               Gejala :
Ø  Keletihan, kelemahan, malaise umum.
Ø  Kehilangan produktivitas, penurunan semangat untuk bekerja
Ø  Toleransi terhadap latihan rendah
Ø  Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak
               Tanda :
Ø  Takikardia/taipnea, dispnea pada bekerja atau istirahat
Ø  Letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya
Ø  Kelemahan otot dan penurunan kekuatan
Ø  Ataksia, tubuh tidak tegak
Ø  Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda-tanda lain yang menunjukkan keletihan
b.      Sirkulasi
               Gejala :
Ø  Riwayat kehilangan darah kronis, mis, perdarahan GI kronis, menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan)
Ø  Riwayat endokarditis infektif kronis
Ø  Palpitasi (takikardia kompensasi)
               Tanda :
Ø  TD : Peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural
Ø  Disritmia  Abnormalitas EKG, misl. depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T : takikardia
Ø  Bunyi jantung : Murmur sistolik (DB)
Ø  Ekstremitas (warna) : Pucat pada kulit dan membran mukosa (konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku (Catatan : pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan); kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (PA)
Ø  Sklera : Biru atau putih seperti mutiara (DB)
Ø  Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonstriksi kompensasi)
Ø  Kuku : Mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB)
Ø  Rambut : Kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara prematur (AP)
c.       Integritas Ego
               Gejala :
Ø  Keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misal : penolakan transfuri darah
                     Tanda :
Ø  Depresi

d.   Eliminasi
               Gejala :
Ø  Riwayat pielonefritis, gagal ginjal
Ø  Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB)
Ø  Hematemesis, feses dengan darah segar, melena
Ø  Diare atau konstipasi
Ø  Penurunan haluaran urine

Tanda :
Ø  Destensi abdomen
e.   Makanan/Cairan
               Gejala :        
Ø  Penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan produk sereal tinggi (DB)
Ø  Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring)
Ø  Mual/muntah dispepsia, anoreksia
Ø  Tidak pernah puas mengunyah atau jika untuk es, kotoran, tepung jagung, cat tanah liat dan sebagainya (DB)
               Tanda :
Ø  Lidah tampak merah daging/halus 9AP : defisiensi asam folat dan vitamin B12.
Ø  Membran mukosa kering pucat
Ø  Turgor kulit : Buruk, kering, tampak kusut/hilang elastisitas (DB)
Ø  Stomatis dan glositis (status defisiensi)
Ø  Bibir : Selitis, mis. Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah (DB)
f.       Higiena
               Tanda :
Ø  Kurang bertenaga, penampilan tak rapih
g.      Neurosensori
               Gejala :        
Ø  Sakit kepala berdenyut, pusing, vertigo, tinitus, ketidakmampuan berkonsentrasi
Ø  Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata
Ø  Kelemahan keseimbangan buruk, kaki goyah, parestesia tangan/kaki (AP): KLAUD
Ø  Sensasi menjadi dingin
               Tanda :
Ø  Peka rangsang, gelisah, depresi, cenderung tidur, apatis
Ø  Mental tak mampu berespon lambat dan dangkal
Ø  Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP)
Ø  Epistaksis perdarahan dari lubang-lubang (taplastik)
Ø  Gangguan koordinasi, ataksia : penurunan rasa getar dan posisi, tanda Romberg positif, paralisis (AP)
h.      Nyeri/Kenyamanan
               Gejala :
Ø  Nyeri abdomen samar; sakit kepala (DB)
i.        Pernapasan
               Gejala :        
Ø  Riwayat TB, abses paru
Ø  Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
               Tanda :
Ø  Takipnea, ortopnea dan dispnea
j.        Keamanan
               Gejala :
Ø  Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, mis. Benzen, insektisida, fenilbutazon, naftalen
Ø  Riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan
Ø  Riwayat kanker, terapi kanker
Ø  Tidak toleran terhadap dingin dan/atau panas
Ø  Transfusi darah sebelumnya
Ø  Gangguan penglihatan
Ø  Penyembuhan luka buruk, sering infeksi
               Tanda :
Ø  Demam rendah, mengiggil, berkeringat malam
Ø  Limfadenopati umum
Ø  Petekie dan ekimosis (aplastik)
k.      Seksualitas
               Gejala :
Ø  Perubahan aliran menstruasi, mis. Menoragin atau amenore (DB)
Ø  Hilang libido (pria dan wanita)
Ø  Impoten
               Tanda :        
Ø  Serviks dan dinding vagina pucat
3.      Pemeriksaan SADT
Sediaan apus darah tepi memperlihatkan sel-sel eritrosit bersifat hipokrom, mikrositik, kadang ditemukan target cell dan poikilosit berbentuk pensil/ pencil cell. Jumlah retikulosit rendah sebanding dengan derajat anemia.
4.      Pemeriksaan Fisik
Ø  Anemis, tidak disertai ikterus.
Ø  Organomegali dan limphadenopati
Ø  Stomatitis angularis, atrofi papil lidah
Ø  Ditemukan takikardi, murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran
Ø  jantung
B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penurunan O2 ke jaringan
2.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
3.      Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, tidak mau makan
4.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidak seimbangan suplai oksigen deng kebutuhan miokard
5.      Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh
6.      Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor pembekuan darah


C.          NCP
NO
Diagnosa Keperawatan
tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penurunan O2 ke jaringan
Klien akan menunjukan kebutuhan Oksigen terpenuhi
KH:
-   Menunjukkan postur badan rileks.
-   Bebas bergerak.
-   Mampu istirahat dengan tepat.
-        Kaji keluhan nyeri, lokasi dan lamanya (skala 0-10).
-         
-        Observasipetunjuk nyeri non verbal. Misal: denggan bergerak, ekspresi wajah.
-         
-        Biarkan anak mengambil posisi yang nyaman misal gunakan posisi miring, tinggikan kepala sedikit pada tempat tidur tanpa menggunakan bantal.
-         
-        Lakukan pijatan lokal hati-hati pada area luka.
-        Lakukan kompres hangat, basah untuk sendi yang sakit/nyeri
-    Nyeri pada anemia membuat hipoksia dan dapat menimbulkan infark.
-    Petunjuk non verbal yang dapat membantu mengevaluasi nyeri dan keefektifan terapi.
-    Meningkatkan kenyamanan dan resiko terjadinya cedera menurunkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan.


-    Membantu menurunkan tegangan otot.
-    Hangat menyebabkan vasodilatasi, meningkatkan sirkulasi. Dingin menyebabkan vasokontriksi.
2.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan klien melaporkan peningkatan intoleransi aktifitas.

KH :
-    Menunjukkan pernafasan normal.
-    Mendapatkan istirahat yang cukup.
-    TD dalam keadaan normal
-  Observasi adanya tanda kerja fisik (dispnea, sesak nafas, kunang-kunang, keletihan.
-  Antisipasi dan bantu dalam aktifitas kehidupan sehari-hari.
-  Beri pengalihan aktifitas bermain.


-  Pilih teman sekamar yang sesuai dengan usia dan minat yang sama.
-  Pertahankan posisi fowler tinggi
-  Ukur tanda vital selama istirahat
-    Merencanakan intervensi yang tepat.

-    Untuk mencegah kelelahan.

-    Meningkatkan istirahat dengan tenang serta mencegah kebosanan dan menarik diri.
-    Untuk mendorong kepatuhan pada kebutuhan istirahat.
-     
-    Untuk pertukaran udara ug optimal.
-    Untuk menentukan nilai dasar perbandingan selama periode aktifitas.
3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, tidak mau makan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan anak mendapatkan kebutuhan nutrisi yang tepat.
KH :
-    Berat badan anak kembali normal.
-    Anak mendapatkan suplemen yang dibutuhkan missal (Fe)
-    Tidak mengalami tanda malnutrisi.
-    Berikan susu pada bayi sebagai makanan suplemen setelah makanan padat diberikan.
-    Sajikan makanan sedikit tapi sering dari pada 3 kali dalam porsi besar.
-    Instruksikan keluarga untuk memberikan asupan makanan yang cukup dan suplemen (Fe).
-    Dorong klien untuk makan semua makanan atau makanan tambahan.

-    Berikan pilihan makanan yang mereka sukai.
-    Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori.
-    Terlalu banyak minum susu, akan menurunkan masukan makanan padat.
-    Mengurangi resiko penurunan terjadi muntah.
-     
-    Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan suplemen yang dibutuhkan oleh tubuh.
-     
-    Klien mungkin hanya makan sedikit karena kehilangan minat pada makanan serta mengalami mual.
-    Makanan yang mereka makan pasti dihabiskan.
-    Memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan atau defisiensi.
4.
Pola nafas tidak efektif b.d Ketidak seimbangan suplai oksigen deng kebutuhan miokard
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24jam tidak terjadi perubahan pola nafas dg k.h:
TD: 120/80mmHg
Suhu : 37 C
HR : 60 x/i
RR: 20x/i
-      Auskultasi bunyi nafas.




-      Kaji adanya edema.



-      Posisikan pasien pada keadaan semi fowler

-      Berikan oksigen sesuai indikasi

-      Kolaborasi pemberian diuretik.
-      Indikasi dema paru, sekunder akibat dekompensasi jantung.
-      Curiga gagal kongestif/kelebihan volume cairan
-      Agar memaksimalkan ekpansi paru
-      Memenuhi kebutuhan oksigen
-      Diuretik bertujuan untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan dijariangan, sehingga menurunkan resiko terjadi edema paru
5.
Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam mampu untuk mengidentifikasi perilaku untuk mencegah menurunkan infeksi.
KH :
-    Klien dan keluarga.
-    Kliwn tidak menunjukkan bukti infeksi.
-    Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan klien.
-    Pertahankan teknik aseptik ketat pada prosedur perawatan.
-    Berikan perawatan kulit.
-    Lindungi klien dari kontak dengan individu yang terinfeksi.
-    Pantau suhu.
-    Mencegah terjadinya kontaminasi bakterial.
-    Menurunkan resiko infeksi bakteri.
-    Menurunkan resiko kerusakan kulit atau jaringan.
-    Untuk meminimalkan pemejanan pada organisme infektif
-    Adanya bukti infeksi dan membutuhkan pengobatan.
6.
Resiko perdarahan b/d penurunan faktor pembekuan darah

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam diharapkan anak dapat mnurunkan resiko perdarahan.
KH :
-   Mempertahankan homeastasis dengan tanpa perdarahan.
-   Menunjukkan perilaku penurunan resiko perdarahan.
-    Awasi nadi, TD, dan CVP bila ada.



-    Catat perubahan mental atau tngkat kesadaran


-    Dorong menggunakan sikat gigi halus



-    Gunakan jarum kecil untuk injeksi, tekan lebih lama pada bagian bekas suntikan.
-     
-    Hindarkan penggunaan produk yang mengandung aspirin
kolaborasi
-    Awasi Hb/Ht dan faktor pembekuan

-    Berikan obat sesuai indikasi. Vitamin tambahan (contoh: vit K, D, C)
-      Peningkatan nadi dengan penurunan TD dan CVP dapat menunjukkan kehilangan volume darah sirkulasi, memerlukan evaluasi lanjut.
-      Perubahan dapat menunjukkan perbahan perfusi jaringan serebral sekunder terhadap hipoolemia, hipoksemia.
-      Pada adanya gangguan faktor pembekuan, trauma minimal dapat menyebabkan perdarahan mukosa.
-      Meminimalkan kerusakan jaringan, menurunkan resiko perdarahan/hematoma
-      Koagulasi memanjang, berpotensi untuk resiko perdarahan.

-      Indikator anemia, perdarahan aktif/ terjadinya komplikasi (contoh: KID)
-      Menungkatkan sintesis protombin dan koagulasi
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

KASUS :
Ny.K 35 tahun datang ke RS Raden, dengan keluhan klien mengatakan dadanya nyeri, sakit kepala dan sesak nafas, lemas, cepat lelah saat beraktivitas. Pasien mengatakan nafsu makan berkurang dan berat badannya sebelum sakit 50 Kg, klien mengatakan mual, lemas/lemah, sesak napas, dan klien tampak pucat, mukosa bibir dan tangan tampak pucat, konjungtiva tampak pucat, pada sudut tampak bercak berwarna pucat keputihan, kuku pasien tampak melengkung seperti sendok.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, diperoleh data TD : 110/70 mmHg, Suhu : 350 C, HR : 89x/i, RR : 25x/i, (Hb didapat ; Hb 9 g/dl, kadar zat besi 3mg),TB 158 cm, BB : 45 Kg.

A.    PENGKAJIAN
      DS :
Ø  Klien mengatakan dadanya nyeri, sesak nafas
Ø  Klien mengatakan sesak napas dan lemas, cepat lelah pada saat beraktivitas
Ø  Klien mengatakan nafsu makan berkurang
Ø  Klien mengatakan berat badan sebelum sakit 50 Kg
      DO :
Ø  Klien tampak pucat, kuku pasien tampak melengkung
Ø  TD : 110/70
Ø  Suhu : 350 C
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Ø  BB : 45 Kg



B.     ANALISA DATA
NO
SIGN & SYMTOMP
ETIOLOGI
PROBLEM
1
DS :
Klien Mengatakan nyeri
Do :
Ø  Klien Tampak meringis
Ø  TD : 110/70mmHg
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Penurunan O2 ke jaringan.
Gangguan rasa nyaman nyeri
2
DS :
Ø  Klien mengatakan nafsu makan berkurang, mual
Ø  Klien mengatakan sebelum sakit BB nya 50 Kg
DO :
Ø  Klien tampak pucat
Ø  klien tampak lemas
Ø  BB 50 Kg
Nafsu makan menurun, mual
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
3
DS :
Klien Mengatakan sesak nafas dan lemas, cepat lelah pada Saat beraktifitas.
DO :
Ø  Klien Tampak Pucat
Ø  Klien tampak lemah
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
Intoleransi aktifitas

C.    NCP
NO
Diagnnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penurunan O2 ke jaringan
Klien akan menunjukan kebutuhan Oksigen terpenuhi
KH:
-   Menunjukkan postur badan rileks.
-   Bebas bergerak.
-   Mampu istirahat dengan tepat.
Ø  Kaji keluhan nyeri, lokasi dan lamanya (skala 0-10).
Ø  Observasipetunjuk nyeri non verbal. Misal: denggan bergerak, ekspresi wajah.
Ø  Biarkan anak mengambil posisi yang nyaman misal gunakan posisi miring, tinggikan kepala sedikit pada tempat tidur tanpa menggunakan bantal.
Ø  Lakukan pijatan lokal hati-hati pada area luka.
Ø  Lakukan kompres hangat, basah untuk sendi yang sakit/nyeri
Ø  Nyeri pada anemia membuat hipoksia dan dapat menimbulkan infark.
Ø  Petunjuk non verbal yang dapat membantu mengevaluasi nyeri dan keefektifan terapi.
Ø  Meningkatkan kenyamanan dan resiko terjadinya cedera menurunkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan.


Ø  Membantu menurunkan tegangan otot.
Ø  Hangat menyebabkan vasodilatasi, meningkatkan sirkulasi. Dingin menyebabkan vasokontriksi.
2.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Nafsu makan menurun, mual
DS :
Klien mengatakan nafsu makan berkurang, mual
Klien mengatakan sebelum sakit BB nya 50 Kg
DO :
Ø       Klien tampak pucat
Ø       Klien tampak lemas
Ø       BB 50 Kg
Nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh

KH :
Nafsu makan membaik
BB 50 Kg
Keadaan umum membaik
Ø  Jelaskan tentang manfaat makan bila dikaitkan dengan kondisi klien saat ini.
Ø  Anjurkan agar klien memakan makanan yang tersedia di RS.

Ø  Beri makanan dalam keadaan hangat dan porsi kecil serta diet TKTP.

Ø  Libatkan keluarga pasien dalam penuhan nutrisi tambahan yang tidak bertenangan dengan penyakitnya.

Ø  Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta sebelum dan sesudah intervensi/periksaan peroral.
Ø  Beri motivasi dan dukungan fsikologis.
Ø  Kolaborasi tentang pemenuhan diet klien
Ø  Dengan pemahaman klien akan lebih kooperatif mengikuti aturan.

Ø  Untuk menghindari makanan yang justru dapat mengganggu proses penyembuhan klien.
Ø  Untuk meningkatkan selera dan mencegah mual, mempercepat perbaikan nutrisi, serta mengurangi beban kerja jantung.
Ø  Dengan bantuan keluarga dalam pemenuhan nutrisi dengan tidak bertentangan dengan pola diet akan meningkatkan pemenuhan nutrisi.
Ø  Higiene oral yang baik akan meningkatkan nafsu makan klien.





Ø  Meningkatkan secara fsikologis .

Ø  Meningkatkan pemenuhan sesuai dengan kondisi klien
3.
Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan
DS :
Klien Mengatakan sesak nafas dan lemas, cepat lelah pada Saat beraktifitas.
DO :
Ø  Klien Tampak Pucat
Ø  Klien tampak lemah
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24jam aktivitas klien sehari-hari terpenuhi dan meningkatnya kemampuan beraktivitas
KH

Ø  Klien bisa melakukan aktivitas dengan normal
Ø  Keadaan umum membaik
Ø  HR : 60-80x/i
Ø  RR : 12-20x/i
Ø  Catat frekuensi dan irama jantung serta perubahan tekanan darah selama dan sesudah beraktivitas
Ø  Tingkatkan istirahat,batasi aktivitas,dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
Ø  Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen,misalnya mengejan saat defekasi.
Ø  Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas.

Ø  Pertahankan klien tirah baring sementara sakit.
Ø  Pertahankan rentan gerak pasif selama sakit kritis.
Ø  Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi.
Ø  Berikan waktu istirahat di antara waktu aktivitas.


Ø  Selama aktivitas kaji EKG,dispnea,sianosis,kerja dan frekuensi nafas,serta keluhan subjektif.
Ø  Respon klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardium.

Ø  Menurunkan kerja miokardium/konsumsi oksigen.



Ø  Dengan mengejan dapat meningkatkan takikardia serta peningkatan tekanan darah.



Ø  Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung,meningkatkan dan mencegah aktivitas berlebihan.
Ø  Untuk mengurangi beban jantung.

Ø  Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu aliran vena balik.
Ø  Untuk mengetahui fungsi jantung bila dikaitkan dengan aktivitas.
Ø  Untuk mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja jantung.
Ø  Melihat dampak dari aktivitas terhadap fungsi jantung



BAB IV
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pamatangan eritrosit.
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya mineral Fe sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan zat besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun :
1.   Kehilangan besi akibat perdarahan menahun yang dapat beasal dari :
Ø  Saluran cerna à Akibat dari tukak peptik kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang
Ø  Saluran genetalia wanita à menoragi atau metroragi
Ø  Saluran kemih à hematuria
Ø  Saluran nafas à hemoptoe
2.      Faktor nutrisi à akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan atau kualitas besi yang tidak baik (makanan banyak mengandung serat, rendah vitamin C, dan rendah daging)
3.      Kebutuhan besi meningkat à seperti pada prematuritas anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan
4.      Gangguan absorpsi besi à gastrekotomi, kolitis kronis

3.2    Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9. Jakarta : EGC
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in Clinical Practice. A Guide to Diagnosis and Management. New York; McGraw Hill, 1995 : 72-85.
Lanzkowsky P. Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology and Oncology. Edisi ke-2. New York; Churchill Livingstone Inc, 1995 : 35-50.
Nathan DG, Oski FA. Iron Deficiency Anemia. Hematology of Infancy and Childhood. Edisi ke-1. Philadelphia; Saunders, 1974 : 103-25.
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC
http://poetriezhuzter.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-anemia.html


Minggu, 27 November 2011

Askep Astigmatisma


ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM PENGLIHATAN
DENGAN MASALAH ASTIGMATISMA

A.   PENGERTIAN
Astigamatisma adalah keadaan dimana terdapat variasi pada kurvatur kornea atau lensa pada meridian yang berbeda yang mengakibatkan berkas cahaya tidak difokuskan pada satu titik.
Astigmatisma adalah sebuah gejala penyimpangan dalam pembentukkan bayangan pada lensa, hal ini disebabkan oleh cacat lensa yang tidak dapat memberikan gambaran/ bayangan garis vertikal dengan horizotal secara bersamaan.cacat mata ini dering di sebut juga mata silinder.
Mata astigmat atau mata silindris adalah suatu keadaan dimana  sinar yang masuk ke dalam mata tidak terpusat pada satu titik saja tetapi sinar tersebut tersebar menjadi sebuah garis.(2) Astigmatisma merupakan kelainan pembiasan mata yang menyebabkan bayangan penglihatan pada satu bidang fokus pada jarak yang berbeda dari bidang sudut.(3) Pada astigmatisma berkas sinar tidak difokuskan ke retina di  dua  garis titik api yang saling tegak lurus. (2)
B.   ETIOLOGI
Astigmatisma terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea.Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang di dalam perkembangannya terjadi keadaan apa yang disebut astigmatisme  with the rule (astigmat lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal. (2)
Astigmatisma juga sering disebabkan oleh adanya selaput bening yang tidak teratur dan lengkung kornea yang terlalu besar pada salah satu bidangnya. Permukaan lensa yang berbentuk bulat telur pada sisi datangnya cahaya, merupakan contoh dari lensa astigmatis.  
Selain itu daya akomodasi mata tidak dapat mengkompensasi kelainan astigmatisma karena pada akomodasi, lengkung lensa mata tidak berubah sama kuatnya di semua bidang. Dengan kata lain, kedua bidang memerlukan koreksi derajat  akomodasi yang berbeda, sehingga tidak dapat dikoreksi pada saat bersamaan tanpa dibantu kacamata. (3) Adapaun bentuk-bentuk astigmat adalah sebagai berikut: 1.Astigmat Reguler yaitu astigmat yang memperlihatkan kekuatan  pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian meridian berikutnya. (2)      2. Astigmat ireguler : astigmat yang terjadi tidak mempunyai dua meridian yang  saling tegak lurus. Astigmat ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi ireguler. Astigmatisma ireguler terjadi akibat infeksi kornea,trauma dan distrofi atau akibat selaput bening. (2)

C.   PATOFISIOLOGI
Mata seseorang secara alami berbentuk bulat.. Dalam keadaan normal, ketika cahaya memasuki mata, itu dibiaskan merata, menciptakan pandangan yang jelas objek. Astigmatisma terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea.Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kornea yang bulat atau sferis yang di dalam perkembangannya terjadi keadaan apa yang disebut astigmatisme  with the rule (astigmat lazim) yang berarti kelengkungan kornea pada bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-jari kelengkungan kornea di bidang horizontal. Mata seseorang dengan Silindris berbentuk lebih mirip sepak bola atau bagian belakang sendok.. Untuk orang ini, ketika cahaya memasuki mata itu dibiaskan lebih dalam satu arah daripada yang lain, sehingga hanya bagian dari obyek yang akan fokus pada satu waktu.. Objek pada jarak pun dapat muncul buram dan bergelombang.
Pada kelainan mata astigmatisma, bola mata berbentuk ellips atau lonjong, seperti bola rugby, sehingga sinar yang masuk ke dalam mata tidak akan bertemu di satu titik retina. Sinar akan dibiaskan tersebar di retina. Hal ini akan menyebabkan pandangan menjadi kabur, tidak jelas, berbayang, baik pada saat untuk melihat jarak jauh maupun dekat.

D.   PENGKAJIAN
  1. RIWAYAT KESEHATAN
1.Riwayat oftalmik
Sebelum melakukan pengkajian fisik mata, perawat harus mendapatkan riwayat oftalmik, medis, dan terapi pasien, dimana semuanya dapat saja berperan dalam kondisi oftalmik sekarang. Informasi yang harus diperoleh meliputi informasi mengenai penurunan tajam penglihatan dan upaya keamanan dan tergantung pada alasan melakukan pemeriksaan oftalmik.
Riwayat keadaan oftalmik sangat penting saat mengumpulkan data dasar. Kita harus menyelidiki setiap riwayat kelainan mata, seperti pandangan kabur, objek tidak begitu jelas,  pandangan berbayang, baik pada saat untuk melihat jarak jauh maupun dekat.
 Ringkasan riwayat oftalmik bagi setiap pasien harus meliputi pertanyaan berikut
- Kapan sakit mata mulai dirasakan
- Apakah gangguan penglihatan ini mempengaruhi ketajaman penglihatan.
- Bagaimana gangguan penglihatan terjadi ( perlahan/tiba-tiba ).
- Apakah pasien merasakan ada perubahan dalam matanya ( kemerahan, bengkak, berair ).
- Apakah perubahan yang terjadi sama pada kedua matanya .
- Apakah pasien sedang berobat tertentu ( sebutkan ) dan sudah berapa lama menggunakannya.
- Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit serupa .
- Apakah pasien menderita : Hipertensi, DM
- Aapkah ada kerusakan melihat waktu senja.

2.. Riwayat psikososial
Daerah pengkajian penting lainnya meliputi psikologis, demografis, dan keprihatinan lingkungan rumah

2.PEMERIKSAAN
Astigmatisma bisa diperiksa dengan cara pengaburan (fogging technique of refraction) yang menggunakan kartu snellen, bingkai percobaan, sebuah set lensa coba, dan kipas astigmat. Pemeriksaan astigmat ini menggunakan teknik sebagai berikut yaitu: 1.Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter, 2.Pada mata dipasang bingkai percobaan, 3.Satu mata ditutup, 4.Dengan mata yang terbuka pada pasien dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan dengan lensa (+) atau (-) sampai tercapai ketajaman penglihatan terbaik, 5.Pada mata tersebut dipasang lensa (+) yang cukup besar (misal S + 3.00) untuk membuat pasien mempunyai kelainan refreksi astigmat miopikus, 6.Pasien diminta melihat kartu kipas astigmat, 7.Pasien ditanya tentang garis pada kipas yang paling jelas terlihat, 8.Bila belum terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka lensa S( + 3.00)  diperlemah sedikit demi sedikit hingga pasien dapat menentukan garis mana yang terjelas dan terkabur, 9.Lensa silinder (-) diperkuat sedikit demi sedikit dengan sumbu tersebut hingga tampak garis yang tadi mula-mula terkabur menjadi sama jelasnya dengan garis yang terjelas sebelumnya, 10.Bila sudah dapat melihat garis-garis pada kipas astigmat dengan jelas,lakukan tes dengan kartu Snellen, 11.Bila penglihatan belum 6/6 sesuai kartu Snellen, maka mungkin lensa (+) yang diberikan terlalu berat,sehingga perlu mengurangi lensa (+) atau menambah lensa (-), 12.Pasien diminta membaca kartu Snellen pada saat lensa (-) ditambah perlahan-lahan hingga ketajaman penglihatan menjadi 6/6. (3)
Sedangkan nilainya : Derajat astigmat sama dengan ukuran lensa silinder (-) yang dipakai sehingga gambar kipas astigmat tampak sama jelas. (3)
E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan sensori-persepsi (visual) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan memfokuskan sinar pada retinas
2. Gangguan rasa nyaman (pusing) yang berhubungan dengan usaha memfokuskan mata
 3. Resiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan
F. INTERVENSI
         1. Perubahan sensori-persepsi (visual) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan memfokuskan sinar pada retinsa.
Tujuan :
- Ketajaman Penglihatan klien meningkat dengan bantuan alat.
- Klien mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi terhadap perubahan.

Intervensi :
- Jelaskan penyebab terjadinya gangguan penglihatan. Rasional : Pengetahuan tentang penyebab   mengurangi kecemasan dan dalam tindakan keperawatan.
- Lakukan uji ketajaman penglihatan. Rasional : mengetahui visus dasar klien dan perkembangannya setelah diberikan tindakan.
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak / kacamata bantu atau operasi (keratotomi radikal), epikeratofakia, atau foto refraktif keratektomi (FRK) untuk miopia. Pada FRK, laser digunakan untuk mengangkat lapisan tipis dari kornea, sehingga dapat mengoreksi lingkungan kornea yang berlebihan yang mengganggu pemfokusan cahay yang tepat melalui lensa. Prosedur ini dilakukan kurang dari satu menit. Perbaikan visual tampak dalam 3-5 hari.

2. Gangguan rasa nyaman (pusing) yang berhubungan dengan usaha memfokuskan mata
Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Keluhan klien (pusing, mata lelah, berair, fotofobia,) berkurang / hilang.
- Klien mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap perubahan yang terjadi.
Intervensi :
- Jelaskan penyebab pusing, mata lelah, berair, fotofobia. Rasional : mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
- Anjurkan agar klien cukup istirahat dan tidak melakukan aktivitas membaca terus menerus. Rasional : mengurangi kelelahan mata sehingga pusing berkurang.
- Gunakan lampu/ penerangan yang cukup (dari atas dan belakang) saat membaca. Mengurangi silau dan akomodasi mata yang berlebihan.
- Kolaborasi : pemberian kacamata untuk meningkatkan tajam penglihatan klien.

3. Resiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Tujuan : tidak terjadi cedera
Kriteria Hasil :
- Klien dapat melakukan aktivitas tanpa mengalami cedera.
- Klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi :
- Jelaskan tentang kemungkinan yang terjadi akibat penurunan tajam penglihatan. Rasional : perubahan ketajaman penglihatan dan kedalaman persepsi dapat meningkatkan resiko cedera sampai klien belajar untuk mengompensasi.
- Beritahu klien agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktifitas.
- Batasi aktivitas seperti mengendarai kendaraan pada malam hari. Rasional : mengurangi potensial bahaya karena penglihatan kabur.
- Gunakan kacamata koreksi / pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi untuk menghindari cedera




Daftar pustaka

1. James,Bruce., Chew, Chris., Brown, Anthony., 2003. Lecture Notes    Oftalmologi. Edisi kesembilan. Jakarta: Erlangga.hal 34-36.
2. Ilyas,Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Cetakan ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.hal 81-83.
3. Ilyas Sidarta. 2003. Dasar-Dasar Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi kedua.Cetakan pertama.Jakarta: Balai Penerbit FKUI.hal 34-39.
4. Hall,N Guyton . 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.hal 786-790.

Astigmatisme.
Adalah kondisi di mana sinar - sinar sejajar yang masuk ke bolamata, oleh media refrakta dibiaskan tidak sama pada setiap meredian, sehingga terjadi lebih dari satu titik fokus. Sebagaimana diketahui, pada mata emmetropia, myopia, dan hypermetropia, sinar² sejajar yang masuk ke bola mata, sama - sama dibiaskan menjadi satu titik fokus, hanya letaknya terhadap retina yang berbeda – beda. Mengapa hanya dibiaskan pada satu titik? Karena seluruh bidang meredian dari sistem optis bolamata berkekuatan (berdaya bias) sama. Perhatikan ilustrasi di bawah ini yang menggambarkan bidang media refrakta yang dibagi menjadi 4 meredian (meskipun sebenarnya bisa jauh lebih banyak dari itu, dari 0° -360°) yaitu meredian 0 atau 180°, 45°, 90°, dan 135°.
tidak astigmat
Terlihat bahwa pada keempat bidang meredian sistem optis bola mata tersebut memiliki kekuatan bias yang sama, yaitu 80 Dioptri, terlepas bahwa itu akan menghasilkan kondisi emmetropia (normal), miopia, atau hipermetropia. Pola kekuatan bias seperti itu akan menghasilkan satu titik fokus. Sekarang coba perhatikan ilustrasi yang ini:
astigmat with the rule
Dan yang ini:
astigmat against the rule
Pada kedua gambar di atas nampak terdapat pola kekuatan bias yang tidak seragam di semua bidang meredian. Pola kekuatan bias seperti itu akan menghasilkan lebih dari 1 titik fokus, karena setiap kekuatan bias yang ada akan memiliki panjang fokusnya sendiri, sehingga jika (misalnya) terdapat 10 perbedaan kekuatan bias, maka juga akan terdapat 10 perbedaan panjang fokus. Otomatis ini akan menghasilkan 10 titik fokus yang letaknya akan membentuk garis searah dengan sumbu aksial bola mata. Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan pola fokus tersebut, dengan mengambil kekuatan bias yang terbesar dan terkecil dari 2 ilustrasi (gambar B dan C) di atas.
pola fokus astigmat
Pada ilustrasi di atas, meredian yang berkekuatan bias +80 D mempunyai fokus di titik A, sedangkan meredian yang berkekuatan bias +78 D mempunyai fokus di titik B. Antara titik B dan A adalah merupakan titik - titik fokus dari bidang meredian yang berkekuatan bias antara +78D s/d +80D dan membentuk suatu garis fokus. Itulah sebabnya astigmatism juga dinamakan pembiasan tanpa titik fokus, karena fokus yang terbentuk adalah berupa garis. Derajat astigmatism diukur berdasarkan perbedaan antara kekuatan bias yang terbesar dengan kekuatan bias yang terkecil pada meredian - meredian utamanya. Kalau anda sempat iseng - iseng, coba hitung berapa derajat astigmatism yang ditunjukkan di beberapa ilustrasi di atas.
Secara garis besar, bentuk astigmatism dibedakan menjadi 2, yaitu astigmatism regular dan astigmatism irregular. Astigmatism regular, adalah bentuk astigmatism yang meredian - meredian utamanya (meredian yang berkekuatan bias terbesar dan meredian yang berkekuatan bias terkecil) saling tegak lurus. Astigmatism irregular, adalah astigmatism yang meredian - meredian utamanya tidak saling tegak lurus. Pembahasan secara lebih lengkap mengenai bentuk dan jenis - jenis astigmatism, ada
di artikel yang ini.
Penyebab Astigmatism.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan kekuatan bias seperti yang telah diuraikan diatas adalah :
  1. Kelengkungan kornea yang tidak spherical (kelengkungan yang beraturan dan sama di semua bidang meredian). Astigmatism yang ditimbulkannya dinamakan astigmatism kornea. Astigmatism ini, jika tidak terlalu besar dapat terkoreksi dengan pemakaian lensa kontak keras/kaku (hard contact lens).
  2. Kelengkungan lensa kristalin yang tidak spherical. Astigmatism yang ditimbulkannya dinamakan astigmatism internal.
  3. Terjadi kekeruhan yang tidak merata di media refrakta (kornea, humor aqueos, lensa kristalin, atau vitreuos humor). Pada beberapa penderita katarak stadium awal (immatura) dapat mengalami astigmat seperti ini.
  4. Kombinasi antara beberapa faktor di atas.
Kondisi astigmatism juga sekaligus dapat dialami oleh penderita miopia ataupun hipermetropia.
Gejala – gejala Astigmatism.
Pada astigmatism rendah :
  1. Mata cepat terasa lelah, terutama pada saat melakukan pekerjaan yang teliti pada jarak fiksasi.
  2. Terasa kabur sementara pada saat melihat dekat. Biasanya dikurangi dengan menutup mata atau mengucek – ucek mata seperti pada hypermetropia. Gejala seperti ini mungkin juga terjadi pada hypermetropia tingkat rendah. Penderita astigmatism rendah biasanya tidak menunjukkan keluhan/gejala jika mereka tidak bekerja dengan keletihan yang tinggi.
  3. Sakit kepala bagian frontal.
Pada astigmatism tinggi :
  1. Penglihatan kabur, sedikit atau jarang ada keluhan sakit kepala maupun asthenopia, tapi dapat terjadi setelah memakai lensa yang kurang lebih/mendekati koreksi astigmatsm tingginya. Keluhan ini mungkin ditimbulkan oleh akomodasi, karena akomodasi tidak dapat memberi power cylinder sehingga tidak dapat membantu astigmatism tinggi dalam mengkoreksi kekaburan penglihatannya. Adalah tidak selalu mungkin untuk menetralisir astigmatism sepenuhnya, sehingga astigmatism yang tersisa dapat menimbulkan ketidaknyamanan, paling tidak di tahap awal pemakaian lensa koreksi.
  2. Memiringkan kepala adalah keluhan kedua yang paling sering pada astigmatism oblik yang tinggi.
  3. Memutar – mutar kepala agar melihat lebih jelas, kadang juga pertanda akan adanya astigmatism tinggi.
  4. Menyipitkan mata seperti pada penderita myopia. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan efek pinhole atau stenopaic. Namun, penderita astigmatism juga menyipitkan mata pada saat melihat dekat, tidak hanya pada waktu melihat jauh.
  5. Memegang bacaan lebih mendekati mata, seperti pada myopia.
Mengatasi Kondisi Astigmatism.
Sebagaimana miopia dan hipermetropia, astigmatisme pada umumnya diatasi dengan pemberian lensa koreksi maupun tindakan operatif (PRK atau LASIK). Lensa koreksi untuk astigmatism ini (disebut lensa berukuran cylindris) secara umum bentuknya hampir sama dengan lensa untuk koreksi miopia maupun hipermetropia. Hanya saja, bila dicermati lensa yang mempunyai ukuran cylindris akan mempunyai kelengkungan yang berbeda di 2 meredian yang saling tegak lurus. Otomatis kekuatan daya bias di kedua meredian tersebut juga berbeda. Nah, perbedaan antara kedua kekuatan daya bias itulah ukuran dioptri cylindrisnya. Pemasangan lensa yang mempunyai ukuran cylindris harus memperhatikan axis cylindrisnya. Jika pemasangannya tidak benar, lensa koreksi tersebut akan menimbulkan ketidaknyamanan yang kadang - kadang oleh pemakainya direspon dengan keluhan pusing.
Eh, iya.. jawaban untuk pertanyaan iseng di atas adalah : 80 D - 78 D= 2 D (Dioptri).

Secara garis besar, ada 2 jenis astigmatisme, yaitu astigmatisme regular dan astigmatisme irregular.
Astigmatisme regular.
Astigmatisme dikategorikan regular jika meredian - meredian utamanya (meredian di mana terdapat daya bias terkuat dan terlemah di sistem optis bolamata), mempunyai arah yang saling tegak lurus. Misalnya, jika daya bias terkuat berada pada meredian 90°, maka daya bias terlemahnya berada pada meredian 180°, jika daya bias terkuat berada pada meredian 45°, maka daya bias terlemah berada pada meredian 135°. Astigmatisme jenis ini, jika mendapat koreksi lensa cylindris yang tepat, akan bisa menghasilkan tajam penglihatan normal. Tentunya jika tidak disertai dengan adanya kelainan penglihatan yang lain.
Bila ditinjau dari letak daya bias terkuatnya, bentuk astigmatisme regular ini dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
  1. Astigmatisme With The Rule.
    Jika meredian vertikal memiliki daya bias lebih kuat dari pada meredian horisontal. Astigmatisme ini dikoreksi dengan Cyl - pada axis vertikal atau Cyl + pada axis horisontal.
http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/wtr_astgm2.gif
  1. Astigmatisme Against The Rule.
    Jika meredian horisontal memiliki daya bias lebih kuat dari pada meredian vertikal. Astigmatisme ini dikoreksi dengan Cyl - pada axis horisontal atau dengan Cyl + pada axis vertikal.
http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/atr_astgm.gif
Sedangkan menurut letak fokusnya terhadap retina, astigmatisme regular dibedakan dalam 5 jenis, yaitu :
Kesepakatan: untuk menyederhanakan penjelasan, titik fokus dari daya bias terkuat akan disebut titik A, sedang titik fokus dari daya bias terlemah akan disebut titik B.
  1. Astigmatismus Myopicus Simplex.
    Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada tepat pada retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl -Y atau Sph -X Cyl +Y di mana X dan Y memiliki angka yang sama.
    ams
  2. Astigmatismus Hypermetropicus Simplex.
    Astigmatisme jenis ini, titik A berada tepat pada retina, sedangkan titik B berada di belakang retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl +Y atau Sph +X Cyl -Y di mana X dan Y memiliki angka yang sama.
    ahs
  3. Astigmatismus Myopicus Compositus.
    Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada di antara titik A dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph -X Cyl -Y.
    amc
  4. Astigmatismus Hypermetropicus Compositus.
    Astigmatisme jenis ini, titik B berada di belakang retina, sedangkan titik A berada di antara titik B dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl +Y.
    ahc
  5. Astigmatismus Mixtus.
    Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada di belakang retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph +X Cyl -Y, atau Sph -X Cyl +Y, di mana ukuran tersebut tidak dapat ditransposisi hingga nilai X menjadi nol, atau notasi X dan Y menjadi sama - sama + atau -.
    amx
Jika ditinjau dari arah axis lensa koreksinya, astigmatisme regular ini juga dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
  1. Astigmatisme Simetris.
    Astigmatisme ini, kedua bolamata memiliki meredian utama yang deviasinya simetris terhadap garis medial. Ciri yang mudah dikenali adalah axis cylindris mata kanan dan kiri yang bila dijumlahkan akan bernilai 180° (toleransi sampai 15°), misalnya kanan Cyl -0,50X45° dan kiri Cyl -0,75X135°.
  2. Astigmatisme Asimetris.
    Jenis astigmatisme ini meredian utama kedua bolamatanya tidak memiliki hubungan yang simetris terhadap garis medial. Contohnya, kanan Cyl -0,50X45° dan kiri Cyl -0,75X100°.
  3. Astigmatisme Oblique.
    Adalah astigmatisme yang meredian utama kedua bolamatanya cenderung searah dan sama - sama memiliki deviasi lebih dari 20° terhadap meredian horisontal atau vertikal. Misalnya, kanan Cyl -0,50X55° dan kiri Cyl -0,75X55°.
Astigmatisme Irregular.
Bentuk astigmatisme ini, meredian - meredian utama bolamatanya tidak saling tegak lurus. Astigmatisme yang demikian bisa disebabkan oleh ketidakberaturan kontur permukaan kornea atau pun lensa mata, juga bisa disebabkan oleh adanya kekeruhan tidak merata pada bagian dalam bolamata atau pun lensa mata (misalnya pada kasus katarak stadium awal). Astigmatisme jenis ini sulit untuk dikoreksi dengan lensa kacamata atau lensa kontak lunak (softlens). Meskipun bisa, biasanya tidak akan memberikan hasil akhir yang setara dengan tajam penglihatan normal.
Jika astigmatisme irregular ini hanya disebabkan oleh ketidakberaturan kontur permukaan kornea, peluang untuk dapat dikoreksi dengan optimal masih cukup besar, yaitu dengan pemakaian lensa kontak kaku (hard contact lens) atau dengan tindakan operasi (LASIK, keratotomy).
Oh ya, berdasarkan faktor penyebabnya, astigmatisme juga dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
  1. Astigmatisme kornea.
    Astigmatisme ini disebabkan oleh kelengkungan permukaan kornea yang tidak spherical (seperti lengkung bola), jadi bisa dikatakan peyang.
  2. Astigmatisme internal.
    Astigmatisme ini disebabkan oleh adanya ketidaksamaan daya bias pada semua meredian di internal bolamata, baik pada lensa mata maupun pada badan kaca (vitreus humor).