Blogger news

Blogroll

☒ WELCOME TO MY BLOG ☺ KEPERAWATAN KESEHATAN DAN HIBURAN ☒

Sabtu, 17 Desember 2011

� Asuhan keperawatan pada Pasien dengan Appendic


Asuhan keperawatan pada Pasien dengan Appendic
APPENDICITIS

A. Definisi
Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisitis
verniformis dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah
abdomen darurat (Brunner & Suddart, 1997)
Usus buntu atau apendiks vermiformis merupakan penonjolan kecil
yang berbentuk seperti jari, yang terdapat di usus besar
(caecum), tepatnya di daerah perbatasan dengan usus ileum kuadran
kanan bawah.
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks. Apendiks disebut juga
umbai cacing.

B. Etiologi
Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh:
1. Fekalis/ massa keras dari feses
2. Tumor, hiperplasia folikel limfoid
3. Benda asing
4. Bakteri. Namun
5. Sumbatan dari lumen apendiks
6. Adanya timbunan tinja yang keras (fekalit)
7. Tumor apendiks
8. Pengikisan mukosa apendiks akibat parasit seperti E. hystolitica.
9. Makanan rendah
10. Tinja yang keras pada akhirnya akan meneyebabkan konstipasi yang akan meningkatkan tekanan di dalam sekum sehingga akan mempermudah timbulnya penyakit itu.

C. Patofisiologi
Appendisitis yang terinflamasi dan mengalami edema. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intra luminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif dalam beberapa jam, trlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Appendiks terinflamasi berisi pus.
Idiopatik makan tak teratur Kerja fisik yang keras

Massa keras feses

Obstruksi lumen

Suplay aliran darah menurun

Mukosa terkikis Perforasi, Abses, peritonitis

Appendiktomy

D. Manifestasi klinis
1. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
2. Mual, muntah
3. Anoreksia, malaisse
4. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
5. Spasme otot
6. Konstipasi, diare
(Brunner & Suddart, 1997)

E. Pemeriksaan
Keluhan yang dirasakan oleh penderita, biasanya berupa demam ringan dengan suhu 37,5-38,5 C. Bila suhu tubuhnya sudah tinggi, maka mungkin sudah terjadi perforasi.
a. Inspeksi (pengamatan), tidak akan ditemukan tanda yang khas,
karena memang tidak ada penonjolan atau penimbunan pada bagian
perut.
b. Palpasi (memegang) perut. Pada daerah perut kanan bawah,
seringkali bila ditekan akan terasa nyeri. Terkadang bila tekanan
dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri perut kanan bawah merupakan
kunci dari diagnosis appendicitis akut. Nyeri perut kanan bawah
juga dirasakan bila penderita bergerak, bernafas dalam, berjalan,
batuk dan mengejan.
c. Pemeriksaan colok dubur untuk menentukan letak apendiks bila
letak apendiks sulit diketahui. Jika saat dilakukan colok dubur
kemudian terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks penderita
terletak di daerah pelvis.
d. Laboratorium, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah
putih hingga sekitar 10.000 – 18.000/mm3. Jika terjadi
peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah
mengalami perforasi (pecah).
e. Radiologi, foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit.
Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis
apendisitis.
f. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis
apendisitis (71 – 97 %), terutama untuk wanita hamil dan
anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan
pemeriksaan CT scan (93 – 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat
jelas gambaran apendiks.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan standar untuk apendisitis adalah operasi. Pernah dicoba pengobatan dengan antibiotik, walaupun sembuh namun tingkat kekambuhannya mencapai 35 %. Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan, harus diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari.


ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA PASIEN APENDICTOMY

A. Asuhan Keperawatan Pre Operatif
1. Biodata pasien
a. Nama : Ny. A
b. Umur : 49 tahun
c. No. register : 065303
d. Ruang : ZH
e. Dx medis : Appendisitis
f. Tindakan operasi : appendictomy
g. Kmr op/tanggal : II/20 Maret 2009
h. Status kesehatan :
1) Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : TD: 110/80 mmhH, Rr: 24x/mnt, N: 82x/mnt,
S: 36,5oC.
2) Riwayat kesehatan : Tidak memiliki alergi ataupun penyakit apapun
sebelumnya
3) Cairan parenteral : RL 500 cc.
4) Kebersihan colon lambung : Puasa selama ± 8 jam.
5) Pencukuran daerah operasi : Sudah
6) Kompres daerah operasi dengan kassa alcohol: Tidak
7) Personal Hygiene (mandi) : Sudah
8) Pengosongan kandung kemih : Sudah terpasang DC.
9) Latihan: pasien sudah latihan nafas
10) Baju operasi: sudah
2. Persiapan penunjang
Laboratorium
a. CT : 5,5 (1 – 6 menit)
b. BT : 4 (2 – 6 menit)
c. Gol. Darah : B
d. Hb : 13,9 (12-16 gr%)
e. AL : 7800 (4.000 – 10.000 /mm)
f. AT : 245.000 (150.000 – 400.000)
g. Gula sewaktu : 87 (100-130 mg/dl)

3. Inform consent: sudah, penanggungjawab : Tn.S
4. Definisi dan pathway
a. Definisi
Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisitis verniformis
dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat
(Brunner & Suddart, 1997)
b. Pathway
Idiopatik makan tak teratur Kerja fisik yang keras

Massa keras feses

Obstruksi lumen

Suplay aliran darah menurun

Mukosa terkikis Perforasi, Abses, peritonitis

Appendiktomy

5. Status Psikososial Pasien:
a. Subyektif
1) Pasien bertanya tentang prosedur operasi.
2) Pasien bertanya tentang lamanya operasi.
3) Pasien mengatakan agak khawatir tentang jalannya operasi.
b. Obyektif
1) Pasien terlihat gelisah saat tiduran di bed
2) Wajah pasien terlihat tegang
3) Mata pasien terlihat kosong dan melihat kesana-kemari.
4) RR : 22 x/mnt, N : 80 x/mnt

6. Diagnosa keperawatan
Ansietas b.d tindakan pembedahan yang akan dilakukan.
Tujuan/ KH (NOC):
Pasien mampu mengkoping kecemasan tersebut.

7. Intervensi (NIC):
a. Interaksi dengan pasien sesuai pemahaman pasien.
b. Kaji sumber ansietas.
c. Berikan motivasi pada pasien.
d. Identifikasi dan mendukung strategi koping yang biasa di gunakan
pasien.

8. Implementasi
1 Berinteraksi dengan pasien sesuai pemahaman pasien, Pasien
Kooperatif
2. Mengkaji sumber ansietas, Pasien Kooperatif
3. Memberikan motivasi pada pasien, Pasien Kooperatif
4. Mengidentifikasi dan mendukung strategi koping yang biasa di
gunakan pasien, Pasien Kooperatif

9. Evaluasi
S : Pasien mengatakan adanya kesiapan untuk menjalani operasi
O : Pasien masih terlihat tegang ketika akan dipindah ke kamar
operasi
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi (Pembedahan)


B. Asuhan Keperawatan Intra Operatif
1. Persiapan pasien
Posisi pasien : Supinasi
TD : 110/80 mmhg
RR : 12x/mnt
N : 76x/mnt
SO2 : 99
Pemasangan : Bed Side Monitor

2. Jenis Anestesi : Spinal Anestesi
3. Persiapan Alat
a. Basic Set Besar
Bengkok (2)
Kom (2)
Skapel besar (1), kecil (1)
Pinset anatomis besar (1), kecil (1)
Pinset sirugis besar (1), kecil (1)
Nailfuder (2) Klem arteri (10)
Duk klem (6)
Kocher (4)
Gunting tumpul (1), lancip (1)

b. Instrumen tambahan
Jas operasi (4)
Handschoon (4 pasang)
Big kassa (1)
Kassa (6 bundel)
Duk besar (2)
Duk kecil (2)
Duk lubang besar (1)
Suction (1)
Cutter (1)
Elis (1) Hak kecil (2)
Langen sedang (2), besar (2)
Ohak (2) : kecil & sedang
Klem bengkok panjang
Bisturi no.22
Benang :
Side 2/0, Side 3/0, Cromic 2/0 atraumatic, Cromic 0 atraumatic,
Plain 2/0
Jarum :
taper 2 buah, cutting 1 buah

4. Pelaksanaan Asisten/Instrumen
No Tindakan Peralatan
1. Desinfeksi Kom, betadin, alcohol, klem panjang, kassa
2. Drapping Duk besar, duk kecil, duk lubang besar, duk klem
3. Menandai daerah sayatan Pisau, klem, kasa
4. Melakukan sayatan transperitoneal lapis demi lapis hingga
peritonium Pisau, kasa, klem arteri, pinset cirurgis, gunting,
hak kecil dan sedang
5. Mencari appendik & melapangkan area operasi Klem arteri, kassa,
silk deep, hak besar, suction, elis
6. Memotong pangkal appendiks, dan menjahit appendiks Klem arteri,
nalfuder, side 2/0, gunting, hak besar, cutter, silk deep, elis
7. Observasi perdarahan & membersihkan area operasi Big kassa,
kassa, klem ovarium, pinset cirurgis, hak perut, silk deep,
suction
8. Hecting peritonium Cromic 2/0 atraumatic, pinset sirugis,
nailfuder, klem arteri, gunting, kassa, hak besar
9. Hecting otot Plain 2/0, jarum taper
10 Hecting fascia Cromic 0 atraumatic
11. Hecting lemak Chromic 2/0, jarum taper
12. Hecting kulit Side 3/0, jarum cutting
13. Desinfeksi Kasa betadin
14. Balut luka Kassa steril dan hipafix

C. Asuhan Keperawatan Post Operatif
1. Pengkajian
a. Pengkajian Primer
A (airway) : Tidak terdapat sumbatan jalan nafas ditandai
pasien dapat berbicara
B (breathing) : Mafas spontan 14x/mnt, tidak ada bunyi
nafas tambahan
C (circulating) : Kulit pasien teraba dingin, pucat.
b. Pengkajian Sekunder
1) Kepala : Rambut bersih, telinga simetris tak ada serumen.
2) Mata : Simetris, anemis, bersih
3) Hidung : Tidak terdapat polip
4) Mulut : Gigi bersih, mukosa kering, bibir pecah-pecah
5) Leher : Tidak ada pembesaran tiroid
6) Dada : Simetris, putting rata, tak ada benjolan, terdengar nafas
vesikuler
7) Abdomen : Terdapat insisi luka operasi
8) Genetalia : Terpasang DC.
9) Ekstermitas : Keempat ekstermitas lengkap, tangan kanan terpasang
infus RL 500cc, kaki masih belum bisa digerakkan

Jenis Anastesi : Spinal Anastesi
Penilaian : Bromage score
No Kriteria Standar Masuk (awal di RR) Keluar dr RR
1. Gerakan penuh dari tungkai 0 2 1
2. Tidak mampu ekstensi tungkai 1 2 1
3. Tidak mampu fleksi lutut 2 2 2
4. Tidak mampu fleksi pergelangan kaki 3 2 1
Nilai <2>

2. Diagnosa keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan
Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kesadaran pasien yang belum optimal

b. Rencana Keperawatan
1) Tujuan
Resiko cedera menurun (perilaku keamanan : pencegahan jatuh)
Kriteria Hasil: dalam waktu 15 menit, klien dapat:
a) Mencegah terjadinya jatuh
b) Kesadaran optimal
c) Mengembangkan strategi pengendalian resiko cedera.

2) Rencana Tindakan Keperawatan
a) Indentifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan,
misal : defisit motorik/sensorik, perubahan status fisik,
tingkat kesadaran klien
b) Identifikasi faktor lngkungan yang memungkinkan resiko jatuh
] (posisi pasien senyaman mungkin)
c) Pantau tingkat kesadaran pasien dan lakukan RPS yaitu dengan
Bromage score
d) Anjurkan untuk makan dan minum langsung setelah operasi
e) Anjurkan Bed rest selama 24 jam

3) Implementasi
No Implementasi Respon Pasien
1 Memantau tingkat kesadaran pasien Klien Kooperatif
2 Memasang penghalang tempat tidur Klien Kooperatif
3 Mengajak klien berbincang-bincang (menanyakan nama dan alamat)
Klien Kooperatif
4. Menganjurkan makan dan minum langsung setelah operasi dengan penyajian yang masih hangat. Klien Kooperatif

4) Evaluasi Sumatif
No SOAP TTD
1 S: klien mengatakan masih sakit
O:
a. TTV:
TD:100/60 mmHg
N : 88 x/mnt
RR : 20 x/mnt
T : 36,5oC
b. Kesadaran : Bromage Score: 1, tidak mampu fleksi lutut
c. Bngun bila dipanggil
d. Gringsang
e. Terpasang plang bed.
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan RTL

3. Diagnosa keperawatan

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kesadaran pasien yang
belum optimal

4. Rencana Keperawatan
Tujuan
Resiko cedera menurun (perilaku keamanan : pencegahan jatuh)
Kriteria Hasil: dalam waktu 15 menit, klien dapat:
Mencegah terjadinya jatuh
Kesadaran optimal
Mengembangkan strategi pengendalian resiko cedera.

6) Rencana Tindakan Keperawatan
Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misal : defisit motorik/sensorik, perubahan status fisik, tingkat kesadaran klien
Identifikasi faktor lngkungan yang memungkinkan resiko jatuh (posisi pasien senyaman mungkin)
Pantau tingkat kesadaran pasien dan lakukan RPS yaitu dengan Bromage score
Anjurkan untuk makan dan minum langsung setelah operasi
Anjurkan Bed rest selama 24 jam

7) Implementasi
No Implementasi Respon Pasien
1 Memantau tingkat kesadaran pasien Klien Kooperatif
2 Memasang penghalang tempat tidur Klien Kooperatif
3 Mengajak klien berbincang-bincang (menanyakan nama dan alamat)
Klien Kooperatif
4. Menganjurkan makan dan minum langsung setelah operasi dengan
penyajian yang masih hangat. Klien Kooperatif
8) Evaluasi Sumatif
1 S: klien mengatakan masih sakit
O: TTV:
TD:100/60 mmHg
N : 88 x/mnt
RR : 20 x/mnt
T : 36,5oC
g. Kesadaran : Bromage Score: 1, tidak mampu fleksi lutut
h. Bngun bila dipanggil
i. Gringsang
j. Terpasang plang bed.
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan RTL

Kamis, 15 Desember 2011

� ASKEP ANEMIA DEFISIENSI BESI #2

ANEMIA DEFISIENSI BESI

ANEMIA DEFISIENSI BESI.

A. PENGERTIAN.
Anemia defisiensi besi adalah suatu keadaan anemia yang disebabkan karena kurangnya penyerapan sat besi, perdarahan, trauma, meningkatnya kebutuhan sat yang tidak sesuai dengan pemasukan (Becher : 1993).
Pada keadaaan normal jumlah sat besi dalam tubuh berkisar antara 3-5 gram, tergantung dari jenis kelamin, berat badan. Hb dalam tubuh berkisar antara 1,5-3,0 gr dan sisanya terdapat dalam plasma jaringan (soeparman : 1998). Jumlah sat besi yang dibutuhkan setiap hari tergantung dari umur, jenis kelamin dan berat badan serta asupan nutrisi yang diperoleh dari sayur-sayuran, telur dan daging yang berserat merah. Laki-laki dewasa memerlukan sat besi 1-2 mg setiap hari, anak dalam masa pertumbuhan memerlukan sat besi 1,5-2,5 mg/hr. wanita pasca menopause dan wanita yang sedang menstruasi membutuhkan sat besi 2-2,5 mg/hr dan wanita hamil dan menyusui membutuhkan sat besi 3-4 mg/hr.

B. ETILOGI.
Penyebab anemia defisiensi besi meliputi :
a. Gangguan penyerapan misalnya setelah dilakukan gastrektomi.
b. Perdarahan misalnya :
 Menorrhagia (menstruasi yang berlebihan).
 Perdarahan pada saluran gastrointestinal akibat terjadinya ulcerasi pada duodenum.
 Perdarahan pada saluran pernapasan akibat batuk darah yang lama.
c. Trauma.
d. Kebutuhan sat besi yang tidak terpenuhi.
e. Meningkatnya kebutuhan besi pada ibu hamil.


C. PATHOFISIOLOGI.
Pada keadaaan anemia defisiensi besi yang diakibatkan gangguan penyerapan, perdarahan, trauma, sat besi yang tidak terpenuhi serta meningkatnya kebutuhan sat besi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak menyebabkan level Hb menurun. Penurunan level Hb ini juga diakibatkan eritrosit yang berukuran kecil serta warna yang pucat (anemia Hipomikrositik).
Anemia defisiensi besi dibagi dalam tiga bagian yaitu :
 Fase 1.
Persediaan sat besi dalam tubuh yang digunakan untuk eritropoisis habis. Jika sat besi yang digunakan dalam tubuh melebihi sat besi yang masuk maka tubuh akan menggunakan sat besi cadangan yang terdapat dalam sum-sum tulang, hati dan limpa.
 Fase 2.
Terjadinya defisiensi besi yang ditransfer ke sum-sum tulang yang mengakibatkan ganggua eritropoisis yang merupakan awal terjadinya anemia. Dimana sel darah merah yang diproduksi berkurang.
 Fase 3.
Jumlah sel darah merah yang sudah menurun mengakibatkan sum-sum tulang terpaksa akan menghasilkan sel darah merah yang ukurannya kecil dan Hbnya rendah. Sel-sel dengan defisiensi Hb ini akan masuk ke dalam sirkulasi dalam jumlah yang besar dan menggantikan eritrosit yang normal untuk proses sirkulasi. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan transport besi yang menyebabkan Hb menurun dan akan terjadi anemia defisiensi besi.

D. MANIFESTASI KLINIK.
Manifestasi klinik yang terjadi secara umum pada klien dengan anemia adalah cepat lelah, letih, jantung berdebar-debar, sakit kepala, lesu, mata berkunang-kunang, susah berkonsentrasi, anoreksia dan gangguan penglihatan
Manifestasi khusus pada klien dengan anemia defisiensi besi yaitu kelelahan, pucat pada wajah, telapak tangan, konjungtiva, sensitive dengan udara dingin, bentuk kuku seperti sendok.

E. STUDI DIAGNOSTIC.
Pemeriksaaan diagnostic yang biasa dilakukan pada klien dengan enemia yaitu: pemeriksaan hapusan darah tepi yakni akan ditemukan :
 Hb kurang dari 3,6 gr/dl.
 Eritrosit yang ditemukan kurang dari 3 juta gr/dl.
 Hematokrit pada laki-laki kurang dari 47 mg/dl dan wanita kurang dari 42 mg/dl.
 Serum sat besi kurang dari 10 mg/dl

F. MANAGEMENT MEDIK.
a. Management Umum.
Pemberian diit terutama makanan denga tinggi sat besi yaitu : daging yang berserat merah, sayur bayam, hati, wortel dan kuning telur.
b. Management pengobatan.
 Garam besi diberikan 3 x 200 mg diberikan secara oral maupun parenteral dan dapat pula dikombinasikan dengan Vit. C, efek sampingnya feses berwarna hitam, terjadi konstipasi dan bisa juga terjadi diare.
 Iron dekstron dapat diberikan secara IM dengan efek sampingnya sakit pada daerah suntukan, jika diberikan secara IV dapat terjadi shock dan trpmboplebitis.
 Terapi transfuse sampai kadar Hb kembali normal.


G. MANAGEMENT KEPERAWATAN.
1. Pengkajian.
a) Anamnese yang meliputi pengkanjian pola makan klien sehari-hari, factor pencetus, jenis makanan yang dimakan setiap hari dan kaji kebiasaan pasien selama di RS.
b) Persepsi sensori.
Pusing, sakit kepala, mati rasa, geli pada tungkai dan lengan, lelah dan sensitive terhadap udara dingin.
c) Status mental : terjadi iritabilitas, perubahan konsentrasi.
d) Kulit dan kuku : terjadi penurunan turgor dan kuku berbentuk sendok.
e) Nutrisi dan metabolic : terjadi penurunan nafsu makan, penurunan BB, nausea dan vomiting.
f) Fungsi gastrointestinal : terjadi perdarahan pada lambung, stomatitis, lidah licin selain itu juga akan ditemukan konjungtiva anemic, wajah dan telapak tangan pucat, akral dingin.
2. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa Keperawatan yang mungkin akan ditemukan pada pasien dengan anemia adalah sebagai berikut :
a) Perubahan persepsi sensori b.d hipoksia system saraf yang ditandai dengan mengeluh pusing, mati rasa, kelelahan pada tungkai dan lengan menurunnya konsentrasi dan sensitive terhadap dingin.
b) Kelelahan b.d menurunnya kadar oksigen pada jaringan yang ditandai dengan mengeluh cepat lelah saat beraktifitas, takikardia dan pernapsan cepat dan dangkal.
c) Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang inadekuat yang ditandai dengan klien mengeluh tidak ada nafsu makan, mual dan muntah.
d) Aktivitas intoleransi b.d kelemahan fisik yang ditandai dengan pasien lemas, cepat lelah bila beraktivitas.

3. Perencanaan.
a) Untuk diagnosa I.
Goal : pasien akan menampakkan peningkatan fungsi system persepsi sensori.
Objektif :tidak terjadi pusing, mati rasa dan klien mengatakan dapat berkativitas dengan baik.
Intervensi :
 Observasi ketat tanda-tanda terjadinya hipoksia. R/ antisipasi dini terjadinya hipoksia jaringan.
 Atur lingkungan yang nyaman. R/mengurangi stressor.
 Bantu pasien untuk beraktivitas. R/ Mengurangi terjadinya injuri.
 Kolaborasi pemberian obat-obatan
b) Diagnosa II.
Goal : pasiena akan memiliki energi yang adekuat untuk melakukan aktivitas.
Objektif : kelelahan berkurang.
Intervensi :
 Bantu pasien untuk membuat jadual pembagian waktu untuk beraktivitas dan beristirahat. R/ mengurangi beban kerja jantung.
 Monitor nadi dan pernapasan. R/ mengidentifikasi dini terjadinya tanda-tanda distress cardipulmonal.
 Jelaskan padan pasien dan keluarga tentang diit tinggi besi. R/ memenuhi kebutuhan klien akan sat besi dan mengurangi kelelahan.
 Kolaborasi pemberian terapi obat-obatan
c) Diagnosa III.
Goal : pasien akan mempertahankan intake nutrisi yang adekuat selama dalam perawatan.
Objektif : tidak tejadi mual muntah dan nafsu makan membaik

Intervensi :
 Anjurkan klien untuk makan makanan tinggi sat besi. R/ memenuhi kebutuhan klien akan sat besi.
 Anjurkan klien untuk makan dengan porsi kecil tapi sering. R/ mengurangi resiko mual dan muntah.
 Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan yang disukai klien. R/ merangsang nafsu makan klien.
 Observasi adanya kesulitan menelan. R/ menentukan perlu tidaknya merubah diit.
d) Diagnosa V.
Goal : pasien akan melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan.
Objektif : pasien dapat melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan orang lain tanpa ada kelelahan.
Intervensi :
 Tempatkan barang-barang ditempat yang mudah dijangkau oleh klien. R/ membantu pasien untuk tidak terlalu banyak bergerak.
 Anjurkan keluarga untuk membantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. R/ mengurangi resiko terjadinya injury.
 Anjurkan klien untuk bangun perlahan-lahan dari tempat tidur. R/ menghindari terjadinya pusing.
4. Evaluasi.
 Pasien dapat merubah posisi dan ambulansi di tempat tidur tanpa merasa pusing, tidak ada keluhan rasa lelah jika beraktivitaa, tidak ada keluhan sakit kepala.
 Pasien memiliki energi yang cukup dan kelelahan berkurang.
 Dapat melakukan aktivitas secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
 Nutrisi pasien terpenuhi dan BB dalam batasan yang normal.
 Keadaan kulit kembali utuh rambut dan kuku kuat dan bentuk kuku normal kembali.

Daftar Pustaka.

Belcher, E. Anne (1993) : “Blood Disorders”. Mosby Year Book, St Louis.

Doenges E. Marylin et all (2000) : “Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien”. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Junaidi dkk (1991) : “Kapita Selekta Kedokteran : Media Aesklupius”. Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.

Price A. S. (1995) : “Patofisologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

� ASKEP AKUT LIMFOBLASTIK LEUKEMIA # 2


Akut Limfoblastik Leukeumia

A. PENGERTIAN
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi ssel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.B. ETIOLOGI
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :
1. Faktor genetik : virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T cell leukemia-lymphoma virus/HTLV)
2. Radiasi ionisasi : lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya
3. Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik.
4. Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol
5. Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
6. Kelainan kromosom : Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom Down’s), Trisomi G (Sindrom Klinefelter’s), Sindrom fanconi’s, Kromosom Philadelphia positif, Telangiektasis ataksia.
C. JENIS LEUKEMIA
1. Leukemia Mielogenus Akut
AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
2. Leukemia Mielogenus Kronis
CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
3. Luekemia Limfositik Akut
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal..
4. Leukemia Limfositik Kronis
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.
D. PATHWAY
E. TANDA DAN GEJALA
1. Aktivitas : kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot.
2. Sirkulasi :palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa pucat.
3. Eliminsi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam, penurunan haluaran urin.
4. Integritas ego : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas.
5. Makanan/cairan: anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB dan disfagia
6. Neurosensori : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang.
7. Nyeri : nyeri abomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati gelisah
8. Pernafasan : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas
9. Keamanan : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe.
10. Seksualitas : perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositik
2. Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml
3. Retikulosit : jumlah biasaya rendah
4. Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)
5. SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur
6. PTT : memanjang
7. LDH : mungkin meningkat
8. Asam urat serum : mungkin meningkat
9. Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik
10. Copper serum : meningkat
11. Zink serum : menurun
12. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan
G. PENATALAKSANAAN
1. Pelaksanaan kemoterapi
2. Irradiasi kranial
3. Terdapat tiga fase pelaksanaan keoterapi :
a. Fase induksi
Dimulasi 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikostreroid (prednison), vincristin dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan behasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.
b. Fase Profilaksis Sistem saraf pusat
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocotison melaui intrathecal untuk mencegah invsi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.
c. Konsolidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan unutk mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.
H. PENGKAJIAN
1. Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya
2. Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal kembar monozigot)
3. Kaji adanya tanda-tanda anemia : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat
4. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi kulit dapat timbul kemerahan atau hiotam tanpa pus
5. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan membran mukosa, pembentukan hematoma, purpura; kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medula: limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.
6. Kaji adanya pembesaran testis, hemAturia, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di sekkitar rektal dan nyeri.
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan menururnnya sistem pertahanan tubuh sekunder gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah limfosit immatur, imunosupresi, peneknan sumsum tulang.
Tujuan : pasien bebas dari infeksi
Kriteria hasil :
a. Normotermia
b. Hasil kultur negatif
c. Peningkatan penyembuhan
Intervensi :
a. Tempatkan pada ruangan yang khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
b. Cuci tangan untuk semua petugas dan pengunjung.
c. Awsi suhu, perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan takikardia, hipotensi, perubahan mental samar.
d. Cegah menggigil : tingkatkan cairan, berikan mandi kompres
e. Dorong sering mengubah posisi, napas dalam dan batuk.
f. Auskultsi bunyi nafas, perhatikan gemericik, ronkhi; inspeksi sekresi terhadap perubahan karakteristik, contoh peningktatan sputum atau sputum kental, urine bau busuk dengan berkemih tiba-tiba atau rasa terbakar.
g. Inspeksi kulit unutk nyeri tekan, area eritematosus; luka terbuka. Besihkan kulit dengan larutan antibakterial.
h. Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan sikat gigi halus.
i. Tingkatkan kebersihan perianal. Berikan rendam duduk menggunakan betadine atau Hibiclens bila diindiksikan.
j. Berikan periode istirahat tanpa gangguan
k. Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan.
l. Hindari prosedur invasif (tusukan jarum dan injeksi) bila mungkin.
m. Kolaborasi :
q Awasi pemeriksaan laboratorium misal : hitung darah lerngkap, apakah SDP turun atau tiba-tiba terjadi perubahan pada neutrofil; kultur gram/sensitivitas.
Kaji ulang seri foto dada.q
Berikan obat sesuai indikasi contoh antibiotik.q
Hindari antipiretik yang mengandung aspirin.q
Berikan diet rendah bakteri misal makanan dimasak, diprosesq
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan : muntah, perdarahan,diare ; penurunan pemasukan cairan : mual,anoreksia ; peningkatan kebutuhan cairan : demam, hipermetabolik
Tujuan : volume cairan terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Volume cairan adekuat
b. Mukosa lembab
c. Tanda vital stabil : TD 90/60 mmHg, nadi 100 x/menit, RR 20 x/mnt
d. Nadi teraba
e. Haluaran urin 30 ml/jam
f. Kapileri refill < 2 detik
Intervensi :
a. Awasi masukan/haluaran. Hitung kehilangan cairan dan keseimbangna cairan. Perhatikan penurunan urin, ukur berat jenis dan pH urin.
b. Timbang berat badan tiap hari
c. Awasi TD dan frekuensi jantung
d. Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan kondisi membran mukosa.
e. Beri masukan cairan 3-4 L/hari
f. Inspeksi kulit/membran mukosa untuk petekie, area ekimosis; perhatikan perdarahan gusi, darah warna karat atau samar pada feses dan urin; perdarahan lanjut dari sisi tusukan invsif.
g. Implementasikan tindakan untuk mencegah cedera jaringan/perdarahan.
h. Batasi perawatan oral untuk mencuci mulut bila diindikasikan
i. Berikan diet halus.
j. Kolaborasi :
Berikan cairan IV sesuai indikasiq
Awasi pemeriksaan laboratorium : trombosit, Hb/Ht, pembekuan.q
Berikan SDM, trombosit, faktor pembekuan.q
Pertahankan alat akses vaskuler sentral eksternal (kateter arteri subklavikula, tunneld, port implan)q
Berikan obat sesuai indikasi : Ondansetron, allopurinol, kalium asetat atau asetat, natrium biukarbonat, pelunak feses.q
3. Nyeri berhubungan dengan agen fisikal seperti pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemia; agen kimia pengobatan antileukemik
Tujuan : nyeri teratasi
Kriteria hasil :
a. Pasien menyatakan nyeri hilang atau terkontrol
b. Menunjukkan perilaku penanganan nyeri
c. Tampak rileks dan mampu istirahat
Intervensi :
a. Kaji keluhan nyeri, perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (gunakan skala 0-10)
b. Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non-verbal misal tegangan otot, gelisah.
c. Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres.
d. Tempatkan pada posis nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal.
e. Ubah posisi secara periodik dan bantu latihan rentang gerak lembut.
f. Berikan tindakan kenyamanan ( pijatan, kompres dingin dan dukungan psikologis)
g. Kaji ulang/tingkatkan intervensi kenyamanan pasien sendiri
h. Evaluasi dan dukung mekanisme koping pasien.
i. Dorong menggunakan teknik menajemen nyeri contoh latihan relaksasi/nafas dalam, sentuhan.
j. Bantu aktivitas terapeutik, teknik relaksasi.
k. Kolaborasi :
Awasi kadar asam uratq
Berika obat sesuai indikasi : analgesik (asetaminofen), narkotik (kodein, meperidin, morfin, hidromorfon)q
Agen antiansietas (diazepam, lorazepam)q
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, peningkatan laju metabolik
Tujuan : pasien mampu mentoleransi aktivitas
Kriteria hasil :
a. Peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur
b. Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan
c. Menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran misal nadi, pernafasan dan TD dalam batas normal
Intervensi :
d. Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas.berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa ganggaun
e. Implementasikan teknik penghematan energi, contoh lebih baik duduk daripada berdiri, pengunaan kursi untuk madi
f. Jadwalkan makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai indikasi
g. Kolaborasi : berikan oksigen tambahan
5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
Tujuan : pasien bebas dari gejala perdarahan
Kriteria hasil :
a. TD 90/60mmHg
b. Nadi 100 x/mnt
c. Ekskresi dan sekresi negtif terhadap darah
d. Ht 40-54% (laki-laki), 37-47% ( permpuan)
e. Hb 14-18 gr%
Intervensi :
f. Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000/ ml, resiko terjadi perdarahan. Pantau Ht dan Hb terhadap tanda perdarahan
g. Minta pasien untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi
h. Inspeksi kulit, mulut, hidung urin, feses, muntahan dan tempat tusukan IV terhadap perdarahan
i. Pantau TV interval sering dan waspadai tanda perdarahan.
j. Gunakan jarum ukuran kecil
k. Jika terjadi perdarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tekan perlahan.
l. Beri bantalan tempat tidur untuk cegh trauma
m. Anjurkan pada pasien untuk menggunakan sikat gigi halus atau pencukur listrik.
6. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan terhentinya aliran darah sekunder adanya destruksi SDM
Tujuan : perfusi adekuat
Kriteria hasil :
a. Masukan dan haluaran seimbang
b. Haluaran urin 30 ml/jam
c. Kapileri refill < 2 detik
d. Tanda vital stabil
e. Nadi perifer kuat terpalpasi
f. Kulit hangat dan tidak ada sianosis
Intervensi :
a. Awasi tanda vital
b. Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, kelambatan pengisian kapiler
c. Catat perubahan tingkat kesadaran
d. Pertahankan masukan cairan adekuat
e. Evaluasi terjadinya edema
f. Kolaborasi :
Awasi pemeriksaan laboratorium ; GDA, AST/ALT, CPK, BUNq
Elektrolit serum, berikan pengganti sesuai indikasiq
Berikan cairan hipoosmolarq
DAFTAR PUSTAKA
1. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
2. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
3. Doenges, Marilynn E. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting Patient Care. Alih Bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC; 1999
4. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994
5. Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta : Salemba Medika; 2000

� ASKEP AKUT LIMFOBLASTIK LEUKEMIA (ALL)


ASKEP AKUT LIMFOBLASTIK LEUKEMIA (ALL)
AKUT LIMFOBLASTIK LEUKEMIA (ALL)
A. Definisi
 Leukemia adalah keadaan keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum
§ tulang didominasi oleh klon maligna limfositik dan terjadi penyebaran sel-sel ganas tersebut ke darah dan semua organ tubuh
 Leukemia adalah penyakit neoplasmik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel-sel hematopoietik. (Virchow, 1847)
§
 ALL adalah penyakit keganasan, merupakan infiltrasi progresif pada
§ Bone Marrow dan organ Lymphatic oleh sel lymphoid limphoblas immature.
B. Etiologi
Walaupun sebagian besar penderita leukemia faktor-faktor penyebabnya tidak dapat diidentifikasi, tetapi ada beberapa faktor yang terbukti dapat menyebabkan leukemia. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:
a. Faktor genetik
Insiden leukemia akut pada anak-anak penderita sindrom Down adalah 20 kali lipat lebih banyak dari pada normal. Dari data ini, ditambah kenyataan bahwa saudara kandung penderita leukemia mempuyai resiko lebih tinggi untuk menderita sindrom Down, dapat diambil kesimpulan pula bahwa kelainan pada kromosom 21 dapat menyebabkan leukemia akut. Dugaan ini diperkuat lagi oleh data bahwa penderita leukemia garanulositik kronik dengan kromosom Philadelphia translokasi kromosom 21, biasanya meninggal setelah memasuki fase leukemia akut.
b. Faktor lingkungan
Faktor-faktor lingkungan berupa kontak dengan radiasi ionisasi desertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. Zat-zat kimia (misalnya, benzen, arsen, klorampenikol, fenilbutazon, dan agen antineoplastik) dikaitkan dengan frekuensi yang meningkat, khususnya agen-agen akil. Leukemia juga meningkat pada penderita yang diobati baik dengan radiasi atau kemoterapi.
c. Virus
Ada beberapa hasil penelitian yang menyebutkan bahwa virus sebagai penyebab leukemia antaralain: enzyme reverse transcriptase ditemukan dalam darah penderita leukemia. Seperti diketahui, ensim ini ditemukan didalam virus onkogenik seperti retrovirus tipe – C, yaitu jenis virus RNA yang menyebabkan leukemia pada binatang.
C. Tanda dan Gejala
 Gejala : Malaise, kelelahan, perdarahan, memar, demam, nyeri tulang.
§
 Limpadenophati
§
 Splenomegali dan hepatomegali
§
 Pembesaran testis
§
 Central Nervus System (CNS) : Tekanan intrakranial meningkat
§
Gambaran Laboratori dan Radiologi
 Darah perifer : Anemia, trombocytopenia, neutropenia
§
 Aspirasi Bone Marrow :
§ > 25 % leukemia lymphoblasts
 Radiografik : massa mediastinal
§
D. Klasifikasi dan patofisiologi
Klasifikasi leukemia terdiri dari akut dan kronik, Klasifikasi kronik didasarkan pada ditemukannya sel darah putih matang yang mencolok – granulosit (leukemia granulositik/mielositik) atau limfosit (leukememia limfositik).
Klasifikasi leukemia akut menurut the French-American-British (FAB) Sbb:
Leukemia Limfoblastik Akut :
L-1 Leukemia limfositik akut pada masa kanak-kanak : pospulasi sel homogen
L-2 Leukemia limfositik akut tampak pada orang dewasa : populasi sel heterogen
L-3 Limfoma Burkitt-tipe leukemia : sel-sel besar, populasi sel homogen
Leukemia Mieloblastik Akut :
M-1 Deferensiasi granulisitik tanpa pematangan
M-2 Deferensiasi granulositik disertai pematangan menjadi stadium promielositik
M-3 Deferensiasi granulositik disertai promielosit hipergranular yang dikaitkan dengan pembekuan intravaskular tersebar (Disseminated intavascular coagulation)
M-4 Leukemia mielomonositik akut : kedua garis sel granulosit dan monosit
M-5a Leukemia monositik akut : kurang berdeferensiasi
M-5b Leukemia monositik akut : berdeferensiasi baik
M-6 Eritroblas predominan disertai diseritropoesis berat
M-7 Leukemia megakariosit
Leukemia dibagi menurut jenisnya kedalam limfoid dan mieloid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Pada garis besarnya pembagian leukemia adalah sebagai berikut:
1. Leukemia mieloid
a. Leukemia granulositik kronik/LGK(leukemia mieloid/mielositik/ mielogenus kronik)
b. Leukemia mielositik akut atau leukemia granulositik akut/ LGA (leukemia mieloid/mielositik/granulositik/ mielogenus akut)
2. Leukemia limfoid
a. Leukemia limfositik kronik
Merupakan suatu gangguan limfoproliferatifyang ditemukan pada kelompok umur tua (sekitar 60 tahun) yang dimanifestasikan oleh poliferasi dan akmulasi limfosit matang kecil dalam sumsum tulang, darah perifer,dan tempat-tempat ekstramedular dengan kadar yang mencapai 100.000/mm3 atau lebih, limposit abnormal umumnya adalah limposit B.
b. Leukemia limfoblastik akut
Penyakit ini terdapat pada 20% orang dewasa yang menderita leukemia, keadaan ini merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak dibawah umur 15 tahun denga puncak insidens antara umur 3 dan 4 tahun. Manifestasi berupa poliferasi limfoblas abnormal dalam sumsum tulamg dan tempat-tempat ekstramedular.

E. Pengobatan
1. Medikamentosa
a. Protokol pengobatan leukemia limfoblastik akut (menurut IDAI), yaitu :
 Protokol half dose metothrexate (Jakarta 1994)
§
 Protokol Wijaya Kusuma (WK-ALL 2000)
§
b. Pengobatan Suportif
2. Bedah
Tidak dilakukan tindakan pembedahan pada ALL
3. Supportif
Terapi supportif msalnya transfusi komponen darah, pemberian antibiotik, nutrisi dan dukungan psikososial.

F. Asuhan Keperawatan
3. Pengkajian
 Anamnesia : Anemia, sering demam, perdarahan, berat badan turun, anoreksia, kelemahan umum
§
 Ada keluhan pembesaran kelenjar getah bening dan perut.
§
4. Pemeriksaan fisik
 Kulit anemis, tanda perdarahan. Mukosa anemis, perdarahan, ulsera, angina Ludwig.
§
 Pembesaran kelenjar limfe umum, splenomegali, kadang hepatomegali
§
 Pada jantung terjadi kelainan sebagai akibat anemia
§
 Infeksi pada kulit, paru, tulang
§
5. Pemeriksaan penunjang
 Pada pemeriksaan apus darah tepi didapatkan anemia normositik normokromik, kadang-kadang ditemukan normoblas.
§
 Pada hitung jenis terdapat limfoblas, juga didapatkan trombositopenia
§
 Uji tourniquet positif dan waktu perdarahan memanjang, dan retikulositopenia.
§
 Aspirasi Bone Marrow :
§ > 25 % leukemia lymphoblasts
 Radiografik : massa mediastinal
§
4. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
Diagnosis Keperawatan Esensial berhubungan dengan diagnosis leukemia :
b. Perubahan proses keluarga b.d. dampak diagnosis leukemia dan prognosis tak pasti
c. Berduka
d. Kurang pengetahuan
Diagnosis Keperawatan Esensial berhubungan dengan supresi sumsum tulang
a. Risiko infeksi
b. Perubahan perfusi jaringan, kardipulmonal b.d. anemia dan trombositopenia karena leukemia/kemoterapi
Diagnosis Keoerawatan Esensial berhubungan dengan Kemoterapi
a. Resiko Cedera
b. Risiko terhadap perubahan membrane mukosa
c. Risiko terhadap perubahan volume cairan
d. Tidak toleran terhadap aktivitas
e. Nutrisi kurang
f. Gangguan citra tubuh
g. Perubahan integritas kulit
h. Risiko perubahan perfusi jaringan, ginjal
i. PK : Anafilaksis syok
j. PK : Perdarahan
k. Risiko penurunan curah jantung
e. PK : Leukositosis
f. Risiko Infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan sekunder
g. Risiko terhadap cedera b.d bentuk darah abnormal, kecenderungan perdarahan sekunder terhadap leukemia dan efek samping kemoterapi
h. Ketidakberdayaan b.d ketidakmampuan untuk mengontrol situasi, ketidakberdayaan gaya hidup