Blogger news

Blogroll

☒ WELCOME TO MY BLOG ☺ KEPERAWATAN KESEHATAN DAN HIBURAN ☒

Senin, 28 Mei 2012

Asuhan Keperawatan Goiter

Asuhan Keperawatan Goiter

2.1  Definisi

Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid. Pembesaran ini dapat terjadi pada kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien yang kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme) atau kelebihan produksi hormon (hipetiroidisme). Terlihat pembengkakan atau benjolan besar pada leher sebelah depan (pada tenggorokan) dan terjadi akibat pertumbuhan kelenjar tiroid yang tidak normal. (Rahza, 2010)
Kelenjar tiroid yang membesar disebut goiter. Goiter dapat menyertai hipo maupun hiperfungsi tiroid. Bila secara klinik tidak ada tanda-tanda khas, disebut giter non-toksik. (Tambayong, 2000)
Gondok adalah suatu pembengkakan pada kelenjar tiroid yang abnormal dan penyebabnya bisa bermacam-macam, dimana kelenjar tiroid diperlukan untuk memproduksi hormon tiroid yang berfungsi mengontrol metabolisme tubuh, keseimbangan tubuh dan pertumbuhan perkembangan yang normal.
2.2  Etiologi
  1. Auto-imun (dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang komponen spesifik pada jaringan tersebut).
Tiroiditis Hasimoto’s. Ini adalah kondisi autoimun di mana terdapat kerusakan kelenjar tiroid oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Sebagai kelenjar menjadi lebih rusak, kurang mampu membuat persediaan yang memadai hormon tiroid.
Penyakit Graves. Sistem kekebalan menghasilkan satu protein, yang disebut tiroid stimulating imunoglobulin (TSI). Seperti dengan TSH, TSI merangsang kelenjar tiroid untuk memperbesar memproduksi sebuah gondok.
  1. Obat-obatan tertentu yang dapat menekan produksi hormon tiroid.
  2. Kurang iodium dalam diet, sehingga kinerja kelenjar tiroid berkurang dan menyebabkan pembengkakan.
Yodium sendiri dibutuhkan untuk membentuk hormon tyroid yang nantinya akan diserap di usus dan disirkulasikan menuju bermacam-macam kelenjar. Kelenjar tersebut diantaranya:
  1. Choroid
  2. Ciliary body
  3. Kelenjar mammae
  4. Plasenta
  5. Kelenjar air ludah
  6. Mukosa lambung
  7. Intenstinum tenue
  8. Kelenjar gondok
Sebagian besar unsur yodium ini dimanfaatkan di kelenjar gondok. Jika kadar yodium di dalam kelenjar gondok kurang, dipastikan seseorang akan mengidap penyakit gondok.
  1. Peningkatan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) sebagai akibat dari kecacatan dalam sintesis hormon normal dalam kelenjar tiroid
  1. Kerusakan genetik, yang lain terkait dengan luka atau infeksi di tiroid,
Tiroiditis. Peradangandari kelenjar tiroid sendiri dapat mengakibatkan pembesaran kelenjar tiroid.
  1. Beberapa disebabkan oleh tumor  (Baik dan jinak tumor kanker)
Multinodular Gondok. Individu dengan gangguan ini memiliki satu atau lebih nodul di dalam kelenjar tiroid yang menyebabkan pembesaran. Hal ini sering terdeteksi sebagai nodular pada kelenjar perasaan pemeriksaan fisik. Pasien dapat hadir dengan nodul tunggal yang besar dengan nodul kecil di kelenjar, atau mungkin tampil sebagai nodul beberapa ketika pertama kali terdeteksi.
Kanker Tiroid. Thyroid dapat ditemukan dalam nodul tiroid meskipun kurang dari 5 persen dari nodul adalah kanker. Sebuah gondok tanpa nodul bukan merupakan resiko terhadap kanker.
  1. Kehamilan
Sebuah hormon yang disekresi selama kehamilan yaitu gonadotropin dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.

2.3 Klasifikasi
  1. Goiter kongenital
Hampir selalu ada pada bayi hipertiroid kongenital, biasanya tidak besar dan sering terjadi pada ibu yang memiliki riwayat penyakit graves.
  1. Goiter endemik dan kretinisme
Biasa terjadi pada daerah geografis dimana detistensi yodium berat, dekompensasi dan hipotiroidisme dapat timbul karenanya, goiter endemik ini jarang terjadi pada populasi yang tinggal disepanjang laut.
  1. Goiter sporadis
Goiter yang terjadi oleh berbagai sebab diantaranya tiroiditis fositik yang terjadi lazim pada saudara kandung, dimulai pada awal kehidupan dan kemungkinan bersama dengan hipertiroidisme yang merupakan petunjuk penting untuk diagnosa. Digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :
  1. Goiter yodium
Goiter akibat pemberian yodium biasanya keras dan membesar secara difus, dan pada beberapa keadaan, hipotirodisme dapat berkembang.
  1. Goiter sederhana (Goiter kollot)
Yang tidak diketahui asalnya. Pada pasien bistokgis tiroid tampak normal atau menunjukan berbagai ukuran follikel, koloid dan epitel pipih.
  1. Goiter multinodular
Goiter keras dengan permukaan berlobulasi dan tunggal atau banyak nodulus yang dapat diraba, mungkin terjadi perdarahan, perubahan kistik dan fibrosis.
  1. Goiter intratrakea
Tiroid intralumen terletak dibawah mukosa trakhea dan sering berlanjut dengan tiroid ekstratrakea yang terletak secara normal.
Klasifikasi Goiter menurut WHO :
  1. Stadium   O – A          : tidak ada goiter.
    1. Stadium O – B            : goiter terdeteksi dari palpasi tetapi tidak terlihat walaupun leher terekstensi penuh.
    2. Stadium I                    : goiter palpasi dan terlihat hanya jika leher  terekstensi penuh.
    3. Stadium II                   : goiter terlihat pada leher dalam Potersi.
      1. Stadium III     :  goiter yang besar terlihat dari Darun.


2.4  Manifestasi Klinis
Penderita mungkin mengalami aritmia dan gagal jantung yang resisten terhadap terapi digitalis. Penderita dapat pula memperlihatkan bukti-bukti penurunan berat badan, lemah, dan pengecilan otot. Biasanya ditemukan goiter multi nodular pada pasien-pasien tersebut yang berbeda dengan pembesaran tiroid difus pada pasien penyakit Graves. (Sadler et al, 1999)
Penderita goiter nodular toksik mungkin memperlihatkan tanda-tanda mata (melotot, pelebaran fisura palpebra, kedipan mata berkurang) akibat aktivitas simpatis yang berlebihan. Meskipun demikian, tidak ada manifestasi dramatis oftalmopati infiltrat seperti yang terlihat pada penyakit Graves (Price dan Wilson, 1994). Gejala disfagia dan sesak napas mungkin dapat timbul. Beberapa goiter terletak di retrosternal (Sadler et al, 1999)
Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Sebagian kecil pasien, khususnya yang dengan struma nodosa besar, mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu penekanan pada esophagus (disfagia) atau trakea (sesak napas) (Noer, 1996). Gejala penekanan ini data juga oleh tiroiditis kronis karena konsistensinya yang keras (Tim penyusun, 1994). Biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul (Noer, 1996).
Keganasan tiroid yang infiltrasi nervus rekurens menyebabkan terjadinya suara parau (Tim penyusun, 1994). Kadang-kadang penderita datang dengan karena adanya benjolan pada leher sebelah lateral atas yang ternyata adalah metastase karsinoma tiroid pada kelenjar getah bening, sedangkan tumor primernya sendiri ukurannya masih kecil. Atau penderita datang karena benjolan di kepala yang ternyata suatu metastase karsinoma tiroid pada kranium (Tim penyusun, 1994).


2.5  Patofisiologi dan WOC
2.5.1        Patofisiologi
Aktifitas utama kelenjar tiroid adalah untuk berkonsentrasi yodium dari darah untuk membuat hormon tiroid. Kelenjar tersebut tidak dapat membuat hormon tiroid cukup jika tidak memiliki cukup yodium. Oleh karena itu, dengan defisiensi yodium individu akan menjadi hipotiroid. Akibatnya, tingkat hormon tiroid terlalu rendah dan mengirim sinyal ke tiroid. Sinyal ini disebut thyroid stimulating hormone (TSH). Seperti namanya, hormon ini merangsang tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid dan tumbuh dalam ukuran yang besar Pertumbuhan abnormal dalam ukuran menghasilkan apa yang disebut sebuah gondok
Kelenjar tiroid dikendalikan oleh thyroid stimulating hormone (TSH) yang juga dikenal sebagai thyrotropin. TSH disekresi dari kelenjar hipofisis, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh hormon thyrotropin releasing hormon (TRH) dari hipotalamus. Thyrotropin bekerja pada reseptor TSH terletak pada kelenjar tiroid. Serum hormon tiroid levothyroxine dan triiodothyronine umpan balik ke hipofisis, mengatur produksi TSH. Interferensi dengan sumbu ini TRH hormon tiroid TSH menyebabkan perubahan fungsi dan struktur kelenjar tiroid. Stimulasi dari reseptor TSH dari tiroid oleh TSH, TSH reseptor antibodi, atau agonis reseptor TSH, seperti chorionic gonadotropin, dapat mengakibatkan gondok difus. Ketika sebuah kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel ganas metastasis untuk tiroid terlibat, suatu nodul tiroid dapat berkembang.
Kekurangan dalam sintesis hormon tiroid atau asupan menyebabkan produksi TSH meningkat. Peningkatan TSH menyebabkan peningkatan cellularity dan hiperplasia kelenjar tiroid dalam upaya untuk menormalkan kadar hormon tiroid. Jika proses ini berkelanjutan, maka akan mengakibatkan gondok. Penyebab kekurangan hormon tiroid termasuk kesalahan bawaan sintesis hormon tiroid, defisiensi yodium, dan goitrogens.
Gondok dapat juga terjadi hasil dari sejumlah agonis reseptor TSH. Pendorong reseptor TSH termasuk antibodi reseptor TSH, resistensi terhadap hormon tiroid hipofisis, adenoma kelenjar hipofisis hipotalamus atau, dan tumor memproduksi human chorionic gonadotropin.
Pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi TSH, glukosil goitrogenik (bahan yang dapat menekan sekresi hormone tiroid), gangguan pada kelenjar tiroid sendiri serta factor pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya sekresi hormone tiroid. Bila kadar – kadar hormone tiroid kurang maka akan terjadi mekanisme umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga aktifitas kelenjar meningkat dan terjadi pembesaran (hipertrofi).
Dampak goiter terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ lain di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Goiter dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Penekanan pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau.
Bila pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia. Tentu dampaknya lebih ke arah estetika atau kecantikan. Perubahan bentuk leher dapat mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien. (Rahza, 2010)

2.4  Penatalaksanaan
Perawatan yang diberikan akan tergantung pada penyebab gondok seperti yang sudah disebutkan di etiologi :
  1. Defisiensi Yodium
Gondok disebabkan kekurangan yodium dalam makanan maka akan diberikan suplementasi yodium melalui mulut. Hal ini akan menyebabkan penurunan ukuran gondok, tapi sering gondok tidak akan benar-benar menyelesaikan.
  1. Hashimoto Tiroiditis
Jika gondok disebabkan Hashimoto tiroiditis dan hipotiroid, maka akan diberikan suplemen hormon tiroid sebagai pil setiap hari. Perawatan ini akan mengembalikan tingkat hormon tiroid normal, tetapi biasanya tidak membuat gondok benar-benar hilang. Walaupun gondok juga bisa lebih kecil, kadang-kadang ada terlalu banyak bekas luka di kelenjar yang memungkinkan untuk mendapatkan gondok yang jauh lebih kecil. Namun, pengobatan hormon tiroid biasanya akan mencegah bertambah besar.
  1. Hipertiroidisme
Jika gondok karena hipertiroidisme, perawatan akan tergantung pada penyebab hipertiroidisme. Untuk beberapa penyebab hipertiroidisme, perawatan dapat menyebabkan hilangnya gondok. Misalnya, pengobatan penyakit Graves dengan yodium radioaktif biasanya menyebabkan penurunan atau hilangnya gondok.
Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).
  1. Obat antitiroid
Indikasi :
  1. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap, pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirotoksikosis.
  2. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium aktif.
  3. Persiapan tiroidektomi
  4. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia
  5. Pasien dengan krisis tiroid
Obat antitiroid yang sering digunakan :
Karbimazol 30-60 5-20
Metimazol 30-60 5-20
Propiltourasil 300-600 5-200
  1. Pengobatan dengan yodium radioaktif
Indikasi :
  1. Pasien umur 35 tahun atau lebih
  2. Hipertiroidisme yang kambuh
  3. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
  4. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik
  5. Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.
Indikasi :
  1. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat antitiroid.
  2. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis besar
  3. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif
  4. Adenoma toksik atau struma multinodular toksik
  5. Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul
  1. Multinodular
Banyak gondok, seperti gondok multinodular, terkait dengan tingkat normal hormon tiroid dalam darah. Gondok ini biasanya tidak memerlukan perawatan khusus setelah dibuat diagnosa yang tepat.

Diagnosa Keperawatan
  1. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan pada leher, penekanan trakhea.
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan.
  3. Gangguan konsep diri  : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya coping individu, adanya pembesaran pada leher
  4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
3.4 Intervensi
  1. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan pada leher, penekanan trakhea.
Tujuan               : Menunjukkan pola nafas yang efektif
Kriteria Hasil    : Dalam 3x 24 jam, pasien
RR= 16-20x/ menit
Kedalaman inspirasi dan kedalaman bernafas
Ekspansi dada simetris
Tidak ada penggunaan otot bantu nafas
No
Intervensi
Rasional
1
Pantau frekwensi pernafasan , kedalaman, dan kerja pernafasan Untuk mengetahui adanya gangguan pernafasan pada pasien
2
Waspadakan klien agar leher tidak tertekuk/posisikan semi ekstensi atau eksensi pada saat beristirahat Menghindari penekanan pada jalan nafas untuk meminimalkan penyempitan jalan nafas
3
Ajari klien latihan nafas dalam Untuk menstabilkan pola nafas
4
Persiapkan operasi bila diperlukan. Operasi diperlukan untuk memperbaiki kondisi pasien
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan.
Tujuan               : Menunjukkan status gizi pasien yang adekuat
Kriteria Hasil    : dalam 3×24 jam, pasien menunjukkan
BB normal
Albumin normal 3,5-5 mg/dL
Peningkatan nafsu makan
No
Intervensi
Rasional
1
Kaji adanya kesulitan menelan, selera makan, kelemahan umum dan munculnya mual dan muntah. kesulitan menelan, selera makan, kelemahan umum dan munculnya mual dan muntah adalah factor yang menentukan asupan makan pasien
2
Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang berat bada setiap hari serta laporkan adanya penurunan. Mengetahui status nutrisi pasien
3
Dorong klien untuk makan dan meningkatkan jumlah makan dan juga beri makanan lunak, dengan menggunakan makanan tinggi kalori yang mudah dicerna. Mempermudah pasien menelan makanan
4
Beri/tawarkan makanan kesukaan klien. Meningkatkan nafsu makan pasien
5
Kolaborasi : konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin. Mencukupi nutrisi sesuai yang dibutuhkan pasien
  1.  Gangguan citra tubuh berhubungan dengan tidak efektifnya coping individu, adanya pembesaran pada leher
Tujuan               : menunjukkan peningkatan harga diri
Kriteria Hasil    : Dalam 3×24 jam, pasien menunjukkan
Penerimaan diri secara verbal
Mengerti akan kekuatan diri
Melakukan perilaku yang dapat meningkatkan rasa percaya diri
No
Intervensi
Rasional
1
Pantau tingkat perubahan rentang harga diri rendah Mengetahui kopping individu pasien
2
Pastikan tujuan tindakan yang kita lakukan adalah realistis Meningkatkan hubungan saling percaya dengan pasien
3
Sampaikan hal-hal yang positif secara mutlak untuk klien, tingkatkan pemahaman tentang penerimaan anda pada pasien sebagai seorang individu yang berharga. Meningkatkan harga diri pasien
4
Diskusikan masa depan klien, bantu klien dalam menetapkan tujuan-tujuan jangka pendek dan panjang. Membantu klien menentukan masa depan yang diinginkan
  1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan             : Menunjukkan peningkatan pengetahuan klien
Kriteria Hasil   : Dalam 2×24 jam, pasien
Mengikuti pengobatan yang disarankan
Peningkatan pengetahuan pasien
Dapat menghindari sumber stress
No
Intervensi
Rasional
1
Berikan informasi yang tepat dengan keadaan individu Meningkatkan pengetahuan pasien
2
Identifikasi sumber stress dan diskusikan faktor pencetus krisis tiroid yang terjadi, seperti orang/sosial, pekerjaan, infeksi, kehamilan Agar pasien bisa menghindari sumber stress
3
Berikan informasi tentang tanda dan gejala dari penyakit gondok serta penyebabnya Dapat mengidentifikasi gejala awal dari gondok
4
Diskusikan mengenai terapi obat-obatan termasuk juga ketaatan terhadap pengobatan dan tujuan terapi serta efek samping obat tersebut Pasien bisa mengikuti terapi yang disarankan

Askep Hipotiroidisme


Askep Hipotiroidisme

BAB I
PENdahuluan

            Latar Belakang
Kelenjar tiroid yang terletak tepat di bawah laring sebelah kanan dan kiri depan trakea, mensekresi tiroksin (T4), triiodotironi (T3), yang mempunyai efek nyata pada kecepatan metabolisme tubuh. Kelenjar ini juga menyekresikalsitonin; suatu hormon yang penting untuk metabolisme kalsium. Tidak adanya sekresi tiroid sama sekali biasanya menyebabkan laju metabolisme turun sekitar 40% di bawah normal dan sekresi tiroksin yang berlebihan sekali dapat menyebabkan laju metabolisme basal meningkat setinggi 60 sampai 100 persen di atas normal. Sekresi tiroid terutama di atur oleh hormon perangsang tiroid yang di sekresi oleh kelenjar hipofisis anterior.
Gambar 1. Gambar Kelenjar Tiroid
         Hormon yang paling banyak di sekresi oleh kelenjar tiroid adalah hormon tiroksin. Akan tetapi, juga di sekresitriiodo tironin dalam jumlah sedang. Fungsi kedua hormon ini secara kualitatif sama, tetapi berbeda dalam kecepatan dan intensitas kerja. Triiodotironin kira-kira empat kali kekuatan tiroksin, tetapi terdapat jauh lebih sedikit dalam darah dan menetap jauh lebih singkat. Untuk membentuk tiroksin dalam jumlah normal, di butuhkan makan kira-kira 50 mg yodium setiap tahun, atau kira-kira 1 mg per minggu. Untuk mencagah defisiensi yodium, garam meja yang biasa di iodisasi dengan satu bagian natrium iodida untuk setiap 100.000 bagian natrium klorida.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian
Hipotiroidisme adalah satu keadaan penyakit yang di sebabkan oleh kurang penghasilan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Hipotiroidisme adalah suatu keadaan di mana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang sangat berat di sebut miksedema. Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid dalam darah.
          Hipotiroidisme merupakan keadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi tiroid yang berjalan lambat dan di ikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini terjadi akibat kadar hormone tiroid berada di dibawah nilai optimal (brunner & suddarth).
Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respon terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan hormon sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal yang akan memepengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik yang di pengaruhi oleh :
§   Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria).
§   Penurunan motilitas usus.
§   Penurunan detak jantung.              
§   Gangguan fungsi neurologik.
§   Penurunan produksi panas
Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak di mana akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami atherosklerosis. Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti rongga pleura, cardiak dan abdominal sebagai tanda miksedema. Pembentukan eritrosit yang tidak optimal sebgai dampak dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien mengalami anemia.

B. Klasifikasi
Lebih dari 95% penderita hipotiroidisme mengalami hipotiroidisme primer atau tiroidal yang mengacu kepada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri. Apabila disfungsi tiroid di sebabkan oleh kegagalan kelenjar hipofisis, hipotalamus atau keduanya maka di sebut hipotiroidisme sentral (hipotiroidisme sekunder) atau pituitaria. Jika sepenuhnya di sebabkan oleh hipofisis di sebut hipotiroidisme tersier.
Klasifikasi penyakit hipotiroidisme, yaitu :
  No
Jenis
Organ
Keterangan
1.
Hipotiroidisme Primer
Kelenjar Tiroid
Paling sering terjadi di mana meliputi penyakit hashimoto tiroiditis (sejenis penyakit autoimun) dan terapi radioiodine (RAI) uintuk merawat penyakit hipotirodisme.
2.
Hipotiroiditisme Sekunder
Kelenjar Hipofisis
Terjadi jika kelenjar hipofisis tidak menghasilkan cukup hormon perangsang tiroid (TSH) untuk merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan jumlah tiroksin yang cukup. Biasanya terjadi apabila terdapat tumor di kelenjar hipofisis, radiasi/pembedahan yang menyebabkan kelenjar tiroid tidak dapat lagi menghasilkan hormon yang cukup.
3.
Hipotiroidisme Tersier
Hipotalamus
Terjadi jika hipotalamus gagal menghasilkan TRH yang cukup, biasanya di sebut juga hypothalamic-pituitary-axis hypothyroidism.


C.    Etiologi
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Apabila di sebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang rendah akan di sertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya umpan balik negatif oleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah di sebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena. tidak adanya umpan balik negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroidisme yang di sebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.
Penyebab yang paling sering yang di temukan pada orang dewasa adalah tiroiditis otoimun (tiroditis Hashimoto), dimana system imun menyerang kelenjar tiroid (Tonner  & Schlechte, 1993). Gejala hipotiroidisme di ikuti oleh gejala hipotiroidisme dan miksedema.
Hipotiroidisme juga sering terjadi pada pasien dengan riwayat hipotiroidisme yang menjalani terapi radioiodium, pembedahan atau preparat anti tiroid. Kejadian ini paling sering dijumpai pada wanita lanjut usia. Terapi radiasi untuk penanganan kanker kepala dan leher kini semakin sering menjadi penyebab hipotiroidisme pada laki-laki. Karena itu, pemeriksaan fungsi tiroid di anjurkan bagi semua pasien yang menjalani terapi tersebut.
Ø   Penyakit Hipotiroidisme :
1.    Penyakit Hashimoto atau yang juga di sebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat adanya otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan HT yang di sertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal. Penyebab tiroiditis otoimun tidak di ketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan genetik untuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering di temukan adalah tiroiditis Hashimoto. Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang masih berfungsi.
2.    Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik yodium radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan hipotiroidisme.
3. Gondok endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iodium dalam makanan. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap sernua iodium yang tersisa dalam. darah. Kadar HT yang rendah akan di sertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik. Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme goitrosa).
4. Kekurangan yodium jangka panjang merupakan penyebab tersering dari hipotiroidisme di negara terbelakang.
5.    Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu menyebabkan hipotiroidisme. Namun, terapi untuk kanker yang jarang di jumpai ini antara lain adalah tiroidektomi, pemberian obat penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan jaringan tiroid. Semua pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke radiasi, terutama masa anak-anak adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi iodium juga dapat meningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid karena hal tersebut merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid.

D. Patofisiologi
Patofisiologi hipotiroidisme didasarkan atas masing-masing penyebab yang dapat menyebabkan hipotiroidisme, yaitu :
a.  Hipotiroidisme sentral (HS)
Apabila gangguan faal tiroid terjadi karena adanya kegagalan hipofisis, maka disebut hipotiroidisme sekunder, sedangkan apabila kegagalan terletak di hipothalamus disebut hipotiroidisme tertier. 50% HS terjadi karena tumor hipofisis. Keluhan klinis tidak hanya karena desakan tumor, gangguan visus, sakit kepala, tetapi juga karena produksi hormon yang berlebih (ACTH penyakit Cushing, hormon pertumbuhan akromegali, prolaktin galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria). Urutan kegagalan hormon akibat desakan tumor hipofisis lobus anterior adalah gonadotropin, ACTH, hormon hipofisis lain, dan TSH.
b.  Hipotiroidisme Primer (HP)
Hipogenesis atau agenesis kelenjar tiroid. Hormon berkurang akibat anatomi kelenjar. Jarang ditemukan, tetapi merupakan etiologi terbanyak dari hipotiroidisme kongenital di negara barat. Umumnya ditemukan pada program skrining massal. Kerusakan tiroid dapat terjadi karena, 1. Operasi, 2. Radiasi, 3. Tiroiditis autoimun, 4. Karsinoma, 5. Tiroiditis subakut, 6. Dishormogenesis, dan 7. Atrofi.
Pascaoperasi. Strumektomi dapat parsial (hemistrumektomi atau lebih kecil), subtotal atau total. Tanpa kelainan lain, strumektomi parsial jarang menyebabkan hipotiroidisme. Strumektomi subtotal M. Graves sering menjadi hipotiroidisme dan 40% mengalaminya dalam 10 tahun, baik karena jumlah jaringan dibuang tetapi juga akibat proses autoimun yang mendasarinya.
Pascaradiasi. Pemberian RAI (Radioactive iodine) pada hipertiroidisme menyebabkan lebih dari 40-50% pasien menjadi hipotiroidisme dalam 10 tahun. Tetapi pemberian RAI pada nodus toksik hanya menyebabkan hipotiroidisme sebesar <5%. Juga dapat terjadi pada radiasi eksternal di usia <20 tahun : 52% 20 tahun dan 67% 26 tahun pascaradiasi, namun tergantung juga dari dosis radiasi.
Tiroiditis autoimun. Disini terjadi inflamasi akibat proses autoimun, di mana berperan antibodi antitiroid, yaitu antibodi terhadap fraksi tiroglobulin (antibodi-antitiroglobulin, Atg-Ab). Kerusakan yang luas dapat menyebabkan hipotiroidisme. Faktor predisposisi meliputi toksin, yodium, hormon (estrogen meningkatkan respon imun, androgen dan supresi kortikosteroid), stres mengubah interaksi sistem imun dengan neuroendokrin. Pada kasus tiroiditis-atrofis gejala klinisnya mencolok. Hipotiroidisme yang terjadi akibat tiroiditis Hashimoto tidak permanen.
Tiroiditis Subakut. (De Quervain) Nyeri di kelenjar/sekitar, demam, menggigil. Etiologi yaitu virus. Akibat nekrosis jaringan, hormon merembes masuk sirkulasi dan terjadi tirotoksikosis (bukan hipertiroidisme). Penyembuhan didahului dengan hipotiroidisme sepintas.
Dishormogenesis. Ada defek pada enzim yang berperan pada langkah-langkah proses hormogenesis. Keadaan ini diturunkan, bersifat resesif. Apabila defek berat maka kasus sudah dapat ditemukan pada skrining hipotiroidisme neonatal, namun pada defek ringan, baru pada usia lanjut.
Karsinoma. Kerusakan tiroid karena karsinoma primer atau sekunder, amat jarang.
Hipotiroidisme sepintas. Hipotiroidisme sepintas (transient) adalah keadaan hipotiroidisme yang cepat menghilang. Kasus ini sering dijumpai. Misalnya pasca pengobatan RAI, pasca tiroidektomi subtotalis. Pada tahun pertama pasca operasi morbus Graves, 40% kasus mengalami hipotiroidisme ringan dengan TSH naik sedikit. Sesudah setahun banyak kasus pulih kembali, sehingga jangan tergesa-gesa memberi substitusi. Pada neonatus di daerah dengan defisiensi yodium keadaan ini banyak ditemukan, dan mereka beresiko mengalami gangguan perkembangan saraf.
Pada hipertiroidisme, metabolisme dan produksi panas akan meningkat. Metabolisme basal hampir mendekati dua kalinya. Pasien yang terkena lebih menyukai suhu lingkungan yang lebih dingin, pada lingkungan yang panas pasien cenderung berkeringat lebih banyak (intoleransi panas). Kebutuhan O2 yang meningkat membutuhkan hiperventilasidan merangsang eritropoesis. Pasa satu sisi , peningkatan lipolisis menyebabkan penurunan berat badan, dan pada sisi lain menyebabkab hiperlipiasidemia. Sementar itu, konsentrasi VLDL, LDL, dan kolesterol berkurang. Pengaruhnya pada metabolisme karbohidrat memudahkan terbentuknya diabetes melitus (reversibel). Bila diberikan glukosa (tes toleransi glukosa), konsentrasi glukosa di dalam plasma akan meningkat secara lebih cepat lebih nyata dari pada orang sehat, peningkatan akan diikuti oleh penurunan yang cepat (toleransi glukosa terganggu). Meskipun hormon tiroid meningkatkan sintesis, hipertiroidisme akan meningkatkan enzim proteolitis yag berlebihan dengan peningkatan pembentukan dan eksresi urea. Massa otot akan berkurang, pemecahan matriks tulang dapat menyebabkan osteoporosis, hiperkalsemiadan hiperkalsiuria.
Akibat kerja perangsangan jatnung, curah jantung dan tekanan darah sistolik akan meningkat. Fibrilasi atrium kadang dapat terjadi. Pembuluh darah perifer akan berdilatasi. Laju filtrasi glomerulus (GFR), aliran plasma ginjal (RPF), serta transpor tubulus akan meningkat di ginjal. Sedangkan di hati pemecahan hormon steroid dan obat akan dipercepat. Perangsangan di otot usus halus akan menyebabkan diare, peningkatan eksitabilitas neuromuskular akan menimbulkan hiperrefleksia, tremor, kelemahan otot dan insomnia. Pada anak-anak, percepatan pertumbuhan kadang dapat terjadi.
  
E.  MANIFESTASI KLINIK
Hipotiroidisme di tandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
1.    Nafsu makan berkurang.
2.    Sembelit.
3.    Pertumbuhan tulang dan gigi yang lambat.
4.    Suara serak.
5.    Berbicara lambat.
6.    Kelopak mata turun.
7.    Wajah bengkak.
8.    Rambut tipis, kering dan kasar.
9.    Kulit kering, kasar, bersisik dan menebal.
10. Denyut nadi lambat.
11. Gerakan tubuh lamban.
12. Lemah.
13. Pusing.
14. Capek.
15. Pucat.
16. Sakit pada sendi atau otot.
17. Tidak tahan terhadap dingin.
18. Depresi.
19. Penurunan fungsi indera pengecapan dan penciuman.
20. Alis mata rontok.
21. Keringat berkurang.

    Gejala dini hipotiroidisme tidak spesifik, namun kelelahan yang ekstrim menyulitkan penderitanya untuk melaksanankan pekerjaan sehari-hari secara penuh atau ikut serta dalam aktivitas yang lazim di lakukannya. Laporan tentang adanya kerontokkan rambut, kuku yang rapuh serta kulit yang kering sering di temukan, dan keluhan rasa baal serta parasetsia pada jari-jari tangan dapat terjadi. Kadang-kadang suara menjadi kasar, dan pasien mungkin mengeluhkan suara yang parau. Gangguan haid seperti menorhagia atau amenore akan terjadi di samping hilangnya libido. Hipotiroidisme menyerang wanita lima kali lebih sering di bandingkan laki-laki dan paling sering terjadi pada usia 30-60 tahun.
               Hipotiroidisme berat mengakibatkan suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal. Pasien biasanya mulai mengalami kenaikan berat badan yang bahkan terjadi tanpa peningkatan asupan makanan, meskipun penderita hipotiroid yang berat dapat terlihat kakeksia. Kulit menjadi tebal karena penumpukkan mukopolisakarida dalam jaringan subkutan. Rambut menipis dan rontik, wajah tampak tanpa ekspresi dan mirip topeng. Pasien sering mengeluhkan rasa dingin meskipun dalam lingkungan yang hangat.
   Pada mulanya, pasian mungkin akan mudah tersinggung dan mengeluh merasa lemah, namun dengan dengan berlanjutnya kondisi tersebut, respon emosional di atas akan berkurang. Proses mental menjadi tumpul dan pasien tampak apatis. Bicara menjadi lambat, lidah membesar, dan ukuran tangan serta kaki bertambah. Pasien sering mengeluh konstipasi serta ketulian dapat terjadi.
   Pada hipotiroidisme lanjut akan menyebabkan demensia di sertai perubahan kognitif dan kepribadian yang khas. Respirasi yang tidak memadai dan apnu saat tidur dapat terjadi pada hipotiroidisme yang berat. Efusi pleura, efusi perikardial dan kelemahan otot pernapasan dapat terjadi.
   Hipotiroidisme berat akan di sertai dengan kenaikkan kadar kolesterol serum, aterosklerosis, penyakit jantung koroner dan fungsi ventrikel kiri yang jelek. Pasien hipotiroidime lanjut akan mengalalami hipotermia dan kepekkan abnormal terhadap preparaf sedatif, opioid serta anestesi, oleh sebab itu semua obat ini hanya di berikan pada kondisi tertentu.
   Pasien dengan hipotiroidisme yang belum teridentifikasi dan sedang menjalani pembedahan akan menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk mengalami hipotensi intraoperatif, gagal jantung kongestif pascaoperatif dan perubahan status mental.
               Koma miksedema menggambarkan stadium hipotiridisme yang paling ekstrim dan berat, di mana pasien mengalami hipotermia dan tidak sadarkan diri. Koma miksedema dapat terjadi sesudah peningkatan letargi yang berlanjut menjadi stupor dan kemudian koma. Hipotiroidisme yang tidak terdiagnosa dapat di picu oleh infeksi atau penyakit sistemik lainnya atau oleh penggunaan preparat sedative atau analgetik opioid. Dorongan respiratorik pasien akan terdepresi sehingga timbul hipoventilasi alveoler, retensi CO2 progresif, keadaan narkosis dan koma. Semua gejala ini, di sertai dengan kolaps kardiovaskuler dan syok memerlukan terapi yang agresif dan intensif jika kita ingin pasien tetap hidup. Meskipun demikian, dengan terapi yang intensif sekalipun, angka mortalitasnya tetap tinggi.

F.  GAMBARAN KLINIS
1.     Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat.
2.     Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema) dan penurunan curah jantung.
3.     Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki.
4.     Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu makan dan penyerapan zat gizi dari saluran cerna.
5.     Konstipasi.
6.     Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi.
7.     Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh.

G.  PemERIKSAAN  Diagnostik        
     Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan dapat mendiagnosis kondisi dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui fungsi tiroid biasanya menunjukkan kadar T4 yang rendah dan kadar TSH yang tinggi.
Pemeriksaan fisik menunjukkan tertundanya pengenduran otot selama pemeriksaan reflex. Penderita tampak pucat, kulitnya kuning, pinggiran alis matanya rontok, rambut tipis dan rapuh, ekspresi wajahnya kasar, kuku rapuh, lengan dan tungkainya membengkak serta fungsi mentalnya berkurang. Tanda-tanda vital menunjukkan perlambatan denyut jantung, tekanan darah rendah dan suhu tubuh rendah. Pemeriksaan ronsen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran jantung.

H. Komplikasi dan Penatalaksanaan
       Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang di tandai oleh eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermi tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian dapat terjadi apabila tidak di berikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam keadaan darurat (misalnya koma miksedem), hormon tiroid bisa di berikan secara intravena.
       Hipotiroidisme di obati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang banyak di sukai adalah hormon tiroid buatan T4. Bentuk yang lain adalah tiroid yang di keringkan (di peroleh dari kelenjar tiroid hewan).
       Pengobatan pada penderita usia lanjut di mulai dengan hormon tiroid dosis rendah, karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Dosisnya di turunkan secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus di minum sepanjang hidup penderita.
       Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai pengganti hormon tiroid. Apabila penyebab hipotiroidism berkaitan dengan tumor susunan saraf pusat, maka dapat di berikan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan.
            Gambaran wajah pasien dengan miksedema. Gambar sebelah kiri pada saat diagnosa awal dan  gambar sebelah kanan setelah penggantian terapi dengan tiroksin. 


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPOTIROIDISME

A.  Pengkajian  KEPERAWATAN
  Dampak penurunan kadar hormon dalam tubuh sangat bervariasi, oleh karena itu lakukan    pengkajian seperti :
1.    Riwayat kesehatan klien dan keluarga seperti sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
2.    Kebiasaan hidup sehari-hari seperti :
a.       Pola makan.
b.      Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
c.       Pola aktivitas.
3.    Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.
4.    Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh yaitu:
a.       Sistem pulmonary.
b.      Sistem pencernaan.
c.       Sistem kardiovaslkuler.
d.      Sistem muskuloskeletal.
e.      Sistem neurologik dan emosi / psikologis.
f.        Sistem reproduksi.
g.       Metabolik.
5.    Pemeriksaan fisik yang mencakup :
a.  Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema sekitar mata, wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. Lidah tampak menebal dan gerak-gerik klien sangat lamban. Postur tubuh keen dan pendek. Kulit kasar, tebal dan berisik, dingin dan pucat.
b.    Nadi lambat dan suhu tubuh menurun.
c.    Perbesaran jantung.
d.    Disritmia dan hipotensi.
e.    Parastesia dan reflek tendon menurun.
6. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan lingkungannya, mengurung diri / bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kaji bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri.
7. Pemeriksaan penunjang yang mencakup; pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum, pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal).

B. Diagnosa Keperawatan
1.  Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif.
2.  Perubahan suhu tubuh.
3.  Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal .
4.  Kurangnya pengetahuan tentang program pengobatan untuk terapi penggantian tiroid seumur hidup.
5.  Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.
6.  Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan.
7.   Miksedema dan koma miksedema.

C. Intervensi Keperawatan
1.  Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif.
Tujuan     : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian.
Intervensi            :
a.       Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat di tolerir.
Rasional :
Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang adekuat.
b.      Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.
Rasional :
Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri.
c.       Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak menimbulkan stress.
Rasional :
Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada pasien.
d.      Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas.
Rasional :
Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang.

2.    Perubahan suhu tubuh.
Tujuan     : Pemeliharaan suhu tubuh yang normal.
Intervensi            :
a.       Berikan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut.
Rasional :
Meminimalkan kehilangan panas.
b.      Hindari dan cegah penggunaan sumber panas dari luar (misalnya bantal pemanas, selimut listrik atau penghangat).
Rasional :
Mengurangi risiko vasodilatasi perifer dan kolaps vaskuler.
c.       Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan penurunannya dari nilai dasar suhu normal pasien.
Rasional :
Mendeteksi penurunan suhu tubuh dan di mulainya koma miksedema.
d.      Lindungi terhadap pajanan hawa dingin dan hembusan angin.
Rasional :
Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien dan menurunkan lebih lanjut kehilangan panas.

3.    Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal.
Tujuan     : Pemulihan fungsi usus yang normal.
Intervensi            :
a.       Dorong peningkatan asupan cairan.
Rasional :
Meminimalkan kehilangan panas.
b.      Berikan makanan yang kaya akan serat.
Rasional :
Meningkatkan masa feses dan frekuensi buang air besar.
c.       Ajarkan kepada klien, tentang jenis-jenis makanan yang banyak mengandung air.
Rasional :
Untuk peningkatan asupan cairan kepada pasien agar feses tidak keras.
d.      Pantau fungsi usus.
Rasional :
Memungkinkan deteksi konstipasi dan pemulihan kepada pola defekasi yang normal.
e.      Dorong klien untuk meningkatkan mobilisasi dalam batas-batas toleransi latihan.
Rasional :
Meningkatkan evakuasi feses.
f.        Kolaborasi : untuk pemberian obat pecahar dan enema bila di perlukan.
Rasional :
Untuk mengencerkan feses.

4. Kurangnya pengetahuan tentang program pengobatan untuk terapi penggantian tiroid seumur hidup.
Tujuan     :  Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang di resepkan.
Intervensi            :
a.       Jelaskan dasar pemikiran untuk terapi penggantian hormon tiroid.
Rasional :
Memberikan rasional penggunaan terapi penggantian hormon tiroid seperti yang diresepkan, kepada pasien.
b.      Uraikan efek pengobatan yang dikehendaki pada pasien.
Rasional :
Mendorong pasien untuk mengenali perbaikan status fisik dan kesehatan yang akan terjadi pada terapi hormon tiroid.
c.   Bantu pasien menyusun jadwaldn cheklist untuk memastikan pelaksanaan sendiri terapi penggantian hormon tiroid.
Rasional :
Memastikan bahwa obat yang di gunakan seperti yang di resepkan.
d.   Uraikan tanda-tanda dan gejala pemberian obat dengan dosis yang berlebihan dan kurang.
Rasional :
Berfungsi sebagai pengecekan bagi pasien untuk menentukan apakah tujuan terapi terpenuhi.
e.      Jelaskan perlunya tindak lanjut jangka panjang kepada pasien dan keluarganya.
Rasional :
Meningkatkan kemungkinan bahwa keadaan hipo atau hipertiroidisme akan dapat di deteksi dan di obati.
       
5.    Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.
Tujuan        :  Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas
yang normal.
Intervensi              :
a.       Pantau frekuensi seperti kedalaman, pola pernapasan, oksimetri denyut nadi dan gas darah arterial.
Rasional :
Mengidentifikasi hasil pemeriksaan dasar untuk memantau perubahan selanjutnya dan mengevaluasi efektifitas intervensi.
b.      Dorong pasien untuk napas dalam dan batuk.
Rasional :
Mencegah aktifitas dan meningkatkan pernapasan yang adekuat.
c.       Berikan obat (hipnotik dan sedatip) dengan hati-hati.
Rasional :
Pasien hipotiroidisme sangat rentan terhadap gangguan pernapasan akibat gangguan obat golongan hipnotik-sedatif.
d.      Pelihara saluran napas pasien dengan melakukan pengisapan dan dukungan ventilasi jika di perlukan.
Rasional :
Penggunaan saluran napas artifisial dan dukungan ventilasi mungkin di perlukan jika terjadi depresi pernapasan.

6.    Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan.
Tujuan     : Perbaikan proses berpikir.
Intervensi            :
a.  Orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, tanggal dan kejadian di sekitar dirinya.
b.      Berikan stimulasi lewat percakapan dan aktifitas yang tidak bersifat mengancam.
Rasional :
Memudahkan stimulasi dalam batas-batas toleransi pasien terhadap stress.
c.       Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa perubahan pada fungsi kognitif dan mental merupakan akibat dan proses penyakit .
Rasional :
Meyakinkan pasien dan keluarga tentang penyebab perubahan kognitif dan bahwa hasil akhir yang positif di mungkinkan jika di lakukan terapi yang tepat.

7.    Miksedema dan koma miksedema.
Tujuan     : Tidak ada komplikasi.
Intervensi            :
a. Pantau pasien akan adanya peningkatan keparahan tanda dan gejala hipertiroidisme seperti penurunan tingkat kesadaran dan demensia serta penurunan tanda-tanda vital (seperti tekanan darah, frekuensi, pernapasan, suhu tubuh, denyut nadi).
b.      Peningkatan kesulitan dalam membangunkan dan menyadarkan pasien. 
     Rasional :
Hipotiroidisme berat jika tidak di tangani akan menyebabkan miksedema, koma miksedema dan pelambatan seluruh sistem tubuh.
c.       Dukung dengan ventilasi jika terjadi depresi dalam kegagalan pernapasan.
Rasional :
Dukungan ventilasi di perlukan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat dan pemeliharaan saluran napas.
d.      Berikan obat (misalnya hormon tiroksin) seperti yang di resepkan dengan sangat hati-hati.
Rasional :
Metabolisme yang lambat dan aterosklerosis pada miksedema dapat mengakibatkan serangan angina pada saat pemberian tiroksin.
e.       Balik dan ubah posisi tubuh pasien dengan interval waktu tertentu.
Rasional :
Meminimalkan resiko yang berkaitan dengan imobilitas.
f.       Hindari penggunaan obat-obat golongan hipnotik, sedatif dan analgetik. 
      Rasional :
Perubahan pada metabolisme obat-obat ini sangat meningkatkan risiko jika diberikan pada keadaan miksedema. 


BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
            Hipotiroidisme adalah satu keadaan penyakit yang di sebabkan oleh kurang penghasilan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Hipotiroidisme adalah suatu keadaan di mana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang sangat berat di sebut miksedema. Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid dalam darah. Kelainan ini kadang-kadang di sebut miksedema.
            Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Adapun penyakit hipotiroidisme yaitu Penyakit Hashimoto atau yang juga di sebut tiroiditis otoimun, gondok endemik, ekurangan yodium jangka panjang, dan arsinoma tiroid. Ada tiga jeni hipotiroidisme yaitu hipotiroidisme primer, hipotiroiditisme sekunder, dan hipotiroidisme tersier.
            Tanda dan gejala hipotiroidisme yaitu nafsu makan berkurang, sembelit, pertumbuhan tulang dan gigi yang lambat. suara serak, berbicara lambat, kelopak mata turun, wajah bengkak, rambut tipis/kering dan kasar, kulit kering, kasar, bersisik dan menebal, denyut nadi lambat, gerakan tubuh lamban, lemah, pusing, capek, pucat, sakit pada sendi atau otot, tidak tahan terhadap dingin, depresi, penurunan fungsi indera pengecapan dan penciuman, alis mata rontok, keringat berkurang.

Saran
            Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya terutama dosen pada umumnya dan mahasiswa / mahasiswi pada umumnya. Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu mata kuliah “Keperawatan Endokrin II”. Selain itu di perlukan lebih banyak referensi dalam penyusunan makalah ini agar lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8. Vol 2. EGC